Udara bertiup pelan. Cuaca panas di bulan Ramadlan tahun
2013 masih mencipta dingin karena sentuhan udara yang tiada henti menyapa. Tapi
dinginnya tak sedingin udara di gunung es, hingga mengharuskan pengunjung pakai
jas atau mantel. Keluar jalan-jalan tak merasa sungkan. Diyakini udara di pagi hari
masih segar. Tubuh menjadi sehat menghirupnya dari pada berdiam di kamar,
apalagi tidur.
Jalan dekat kamarku terbentang di hadapan mata.
Memandangnya mendorongku beranjak dari duduk santai dibarengi dekapan ponsel
menyala. Jalan-jalan. Segarkan pikiran. Refresh.
Hirup udara. Lihat-lihat pemandangan berlatar pegunungan. Indah! Nurani
berdetak kagum.
Sambil meninggalkan kamar, sayup-sayup udara seakan
berbisik menyampaikan risalah ulama. “Tidur pagi bisa-bisa buat orang jatuh
fakir.” Tak sempat merespons, langkah kaki makin menjauh. Memang kalimat itu
terdengar kuno. Anak sok kritis mengkritik. “Itu dulu. Aktivitas pagi begitu
padat. Sekarang? Waktu kerja bisa jadi waktu siang, sore, atau malam.”
Entahlah. Aku tak ingin jadi pening karena kelamaan mikir pendapat yang pradoks.
Ponsel tetap mendekap di genggaman tangan. Dilihatlah screen.
Satu pun tak ada pesan atau panggilan. Kucoba panggil Ade’. Dia masih tidur?
Bangun? Nyapu? Jalan-jalan? Duduk termenung? Gumam pikiranku.
Panggilan diterima. Sejak itu obrolan bermula kembali. Tadi malam atau kemarin,
banyak kata diucap disertai perasaan bahagia, terharu, dan pedih, hingga
tetesan air mata sendiri menjadi saksi. Itu telah jadi cerita. Kini aku nikmati
cerita itu. Bahagiakah? Terharukah? Sedihkan? Terserah. Waktu kini jauh lebih
berarti dibandingkan waktu lampau atau mendatang.
“Bang, ada orang nimbak
aku,” keluhnya dengan nada merengek.
“Lho, kok bisa?!” jawabku terkejut. Nekat benar si
lelaki itu.
“Aduh....” Dia tetap berkeluh.
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Dia Abangku juga. Namanya Abang Ahmad.”
“Punya nomor hp-nya?”
“Punya. Untuk apa?”
“Tak aku telepon
dia nanti. Aku akan kasih tahu kalo Ade’ udah punya Abang.”
“Aduh, gimana ya? Aku takut kalian bertengkar.”
“Ade’, aku bukan anak kecil lagi.”
“Insya Allah. Nanti aku kirimi.”
Panggilan tetap aktif. Sinar matahari menyengat kulit.
Tampak bersinar di ufuk timur. Tak langsung mandi, tapi ikut main sepak bola di
halaman masjid An-Nur. Sambil bermain, obrolan tetap aktif. Aku tak serius.
Lihat teman-teman kejar bola dan menendang ke gawang. Untung tidak gol. Si penjaga gawang mampu menangkalnya. Bola menggelinding dekat tempat aku berdiri seraya
sibuk pencet tombol ponsel. Alihkan pandangan sebentar dan kejar bola.
Ditendang. Huh... tidak gol. Gagal. Aduh.... Sakit menjamah kaki. Terlihat
aliran darah pada ibu jari. “Kakiku cedera. Si gundukan keparat,” gumamku.
Sejak itu aku pilih istirahat. Ganti pemain. Sadar kalau
aku belum bakat jadi pemain sepak bola. Di pondok pun jarang gabung dengan
teman-teman pecinta football. Sekalipun
dulu, sebelum mondok, pernah juara sepak bola di sekolah. Hati bilang, “Kamu
agak bakat jadi pemain ala Messi atau Ronaldo.” Akhir-akhir ini sanjungan
nurani tak didengar kembali. Mungkin itu menilai diriku sudah pensiun. Pindah
propesi dari pemain bola menjadi penulis. Kerjaannya baca dan nulis saja. Itu
doang.
* * *
Keesokan harinya tampak sesuatu yang berbeda menyentuh perasaan. Pikiran pun membetulkan. Dia sedang dijamah masalah. Tapi, tak langsung cerita. Curhat. Kekhawatiran bikin pikiran semakin mumet. Takut hubungan ini retak, sedangkan kebahagian baru saja dirasakan.
“Berilah kesempatan, Ade’ percaya pada Abang,” pintaku
memelas.
“Kalo, itu memberatkan?” tawarnya serius.
“Kalo itu yang terbaik, kenapa tidak?” jawabku tak
sedikit merasa getir.
“Gimana jika aku minta Abang jangan phone aku
kembali sampai hari terakhir liburan pondok? Pada hari itu, aku yang akan
panggil Abang duluan.” Dia menjelaskan.
Hati terasa berat menjawa “iya”. Kenapa itu yang menjadi
tawaran atau persyaratan. Apakah aku akan menyerah? Mundur? Atau tetap maju,
sekalipun pahit yang harus aku genggam? Bayangkan. Baru terjalin hubungan;
kebahagian baru dirasakan, tidak boleh tidak harus stop komunikasi. Nurani memberikan jalan keluar. Setujui saja
persyaratan tersebut karena itulah akan menjadi ujian menuju gerbang ketulusan.
Sehingga, diraihlah kepercayaan untuk saling menjaga hubungan menjadi kekar.
“I-iya. Jadi besok kita cuti ya.” Aku jawab dengan nada
tegas dan tegar.
Obrolan berlalu. Pikiran melamun. Serangkaian pertanyaan
digadai. Kok bisa dia bilang begitu? Apakah ada yang ganjal dengan diriku?
Tidak menyenangkan? Dengar suaranya terkesan sesak? Lihat koleksi fotoku tak
betah? Mingibarkan sayap imajinasi tuk mengenang pertemuan dekat-dekat itu?
Sayangnya, aku masih bodoh menilik kondisi seseorang
sehingga mudah menghasilkan kesimpulan atau jawaban. Dan mudah mengatasi
masalah. Bisanya hanya menyerah. Menyerah. Sudah diucap break komunikasi sementara. Tak baik mengemis-ngemis agar
kesepakatan itu direvisi. Diperingan. Aku laki-laki. Harus berani menghadapi
masalah, sepahit apa pun. Menangis? Jangan! Nanti nilai kepriaanku pudar,
karena aku terkesan feminin. Yakini saja itu keputusan terbaik, menjadi manusia
terbaik pula. Semoga.
Keesokan harinya, aku buka fb. Dicek obrolan. Saat itu
Ade’ juga online dengan akunnya, “Naila
Aljazilah”. Apakah aku harus sapa dia?
Tidak. Aku harus kuat. Tidak boleh melanggar kesepakatan. Seakan-akan
kita tak saling kenal. Aku pun menunggu. Apakah dia akan kirim pesan ke inbox fb-ku? Nyatanya, tidak juga. Kita
sama sabar.
Aku hanya iseng-iseng kirim pesan pada teman-teman yang
lain. Agar tidak rugi buka fb. Kadang nunggu sebentar atau berlama-lama, karena
lemmot (loading) terlalu lama. Update
status pun tuk ngisi-ngisi keheningan media sosial. Tak begitu mengharap
ada teman ‘komentar’ atau ‘suka’. Mereka lakukan, untung. Akhirnya, ditutup.
Suasana jadi sepi tak seperti hari-hari sebelumnya.
Pikiran berdendang. Siapa yang ingin di-phone?
Teman-teman? Orang tak dikenal? Huh.... Sudahlah. Tak baik mengikuti nafsu. Aku
ingat. Nafsu itu adalah musuh yang nyata. Nafsu syu’, maksudku. Aku harus ikuti kata nuraniku yang dapat membimbing
pada jalan kebenaran.
Menjalani ujian, bukan dilalui dengan perasaan marah,
kesal, atau putus asa. Melainkan, jalani dengan penuh senyum, sabar, dan tegar.
Cobalah baca cerita para nabi yang diberi ujian oleh Tuhan mereka. Agar, itu
dapat dijadikan perbandingan. Yakin. Jika baca cerita mereka, pasti akan
didapat banyak pelajaran. Bisa-bisa jadi pewaris para nabi dan orang yang
takwa.
Sore harinya aku beserta temanku, Obama, pergi ke
warnet. Ke sana bukan untuk online atau apalah, tapi untuk print sertifikat peserta kursus. Maunya
print di rumah, printer-nya ngadat.
Dapat dibilang rusak.
Usai print
ponselku melengking. Nada panggilan terdengar jelas. Dilihatlah. Dari Ade’.
“Lho, kok manggil?! Bukankah sekarang kita cuti?” Pertanyaan terkatung-katung
menyesaki pikiran.
Diangkat. Isak tangis terdengar. Dia sadar. Di sela-sela
keheningan yang membungkamnya; suaraku tak didengar, teringat dan merasa takut
aku menjadi orang yang tersakiti. Dia percaya pada diriku tanpa persyaratan apa
pun. Jadi, untuk cutinya di-delete saja.
“Aku sadar saat baca-baca buku bahwa cinta akan menjadi rapuh tanpa
kepercayaan,” jelasnya.
Aku membenarkan.
“Pokoknya, aku percaya sama Abang. Entah Abang berbuat
apa pun di belakangku. Ada Tuhan yang akan membalasnya.” Dia kelihatan pasrah.
“Iya Ade’.” Aku men-support
lirih.
“Apakah Abang benar-benar serius berkata seperti itu?”
tanyanya memastikan.
“Iya. Aku tidak ingin menyakiti Ade’. Jika Ade’ menjadi
pilihan Abang, jadi pilihan ini yang terbaik,” ketusku.
Aku jadi bangga. Kita dapat tersenyum kembali, sekalipun
di ponsel. Kepercayaan telah menjadi tali yang mengikatnya. Semakin optimis
cinta akan menjadi kuat, sekalipun arus membenturnya.
Aku ngerti. Dia telepon, bukan berarti menyerah, tapi
berusaha berkutat pada pilihan terbaik. Dari pada bertahan dalam keheningan
yang terus menikam dan membikin suasana tidak kaku, begitu pula perasaan tidak
tenang, sebaiknya dihapus saja kesepakatan itu. Apalagi dia kan produsernya,
sedangkan aku hanya membebek saja.
Panggilan diakhiri. Senja ditatap sebegitu indah terhias
dalam pandangan. Knalpot sepeda motorku berderu. Kukendarahi, sedangkan temanku
sedang membonceng. Dia tidak tahu kalau aku sedang bahagia.[]
No comments:
Post a Comment