Tuesday, June 30, 2015

Di-delete Saja



Udara bertiup pelan. Cuaca panas di bulan Ramadlan tahun 2013 masih mencipta dingin karena sentuhan udara yang tiada henti menyapa. Tapi dinginnya tak sedingin udara di gunung es, hingga mengharuskan pengunjung pakai jas atau mantel. Keluar jalan-jalan tak merasa sungkan. Diyakini udara di pagi hari masih segar. Tubuh menjadi sehat menghirupnya dari pada berdiam di kamar, apalagi tidur.

Jalan dekat kamarku terbentang di hadapan mata. Memandangnya mendorongku beranjak dari duduk santai dibarengi dekapan ponsel menyala. Jalan-jalan. Segarkan pikiran. Refresh. Hirup udara. Lihat-lihat pemandangan berlatar pegunungan. Indah! Nurani berdetak kagum.

Sambil meninggalkan kamar, sayup-sayup udara seakan berbisik menyampaikan risalah ulama. “Tidur pagi bisa-bisa buat orang jatuh fakir.” Tak sempat merespons, langkah kaki makin menjauh. Memang kalimat itu terdengar kuno. Anak sok kritis mengkritik. “Itu dulu. Aktivitas pagi begitu padat. Sekarang? Waktu kerja bisa jadi waktu siang, sore, atau malam.” Entahlah. Aku tak ingin jadi pening karena kelamaan mikir pendapat yang pradoks.

Ponsel tetap mendekap di genggaman tangan. Dilihatlah screen. Satu pun tak ada pesan atau panggilan. Kucoba panggil Ade’. Dia masih tidur? Bangun? Nyapu? Jalan-jalan? Duduk termenung? Gumam pikiranku.

Panggilan diterima. Sejak itu obrolan bermula kembali. Tadi malam atau kemarin, banyak kata diucap disertai perasaan bahagia, terharu, dan pedih, hingga tetesan air mata sendiri menjadi saksi. Itu telah jadi cerita. Kini aku nikmati cerita itu. Bahagiakah? Terharukah? Sedihkan? Terserah. Waktu kini jauh lebih berarti dibandingkan waktu lampau atau mendatang.

“Bang, ada orang nimbak aku,” keluhnya dengan nada merengek.

“Lho, kok bisa?!” jawabku terkejut. Nekat benar si lelaki itu.

“Aduh....” Dia tetap berkeluh.

“Siapa?” tanyaku penasaran.

“Dia Abangku juga. Namanya Abang Ahmad.”

“Punya nomor hp-nya?”

“Punya. Untuk apa?”

“Tak aku telepon dia nanti. Aku akan kasih tahu kalo Ade’ udah punya Abang.”

“Aduh, gimana ya? Aku takut kalian bertengkar.”

“Ade’, aku bukan anak kecil lagi.”

“Insya Allah. Nanti aku kirimi.”

Panggilan tetap aktif. Sinar matahari menyengat kulit. Tampak bersinar di ufuk timur. Tak langsung mandi, tapi ikut main sepak bola di halaman masjid An-Nur. Sambil bermain, obrolan tetap aktif. Aku tak serius. Lihat teman-teman kejar bola dan menendang ke gawang. Untung tidak gol. Si penjaga gawang mampu menangkalnya. Bola menggelinding dekat tempat aku berdiri seraya sibuk pencet tombol ponsel. Alihkan pandangan sebentar dan kejar bola. Ditendang. Huh... tidak gol. Gagal. Aduh.... Sakit menjamah kaki. Terlihat aliran darah pada ibu jari. “Kakiku cedera. Si gundukan keparat,” gumamku.

Sejak itu aku pilih istirahat. Ganti pemain. Sadar kalau aku belum bakat jadi pemain sepak bola. Di pondok pun jarang gabung dengan teman-teman pecinta football. Sekalipun dulu, sebelum mondok, pernah juara sepak bola di sekolah. Hati bilang, “Kamu agak bakat jadi pemain ala Messi atau Ronaldo.” Akhir-akhir ini sanjungan nurani tak didengar kembali. Mungkin itu menilai diriku sudah pensiun. Pindah propesi dari pemain bola menjadi penulis. Kerjaannya baca dan nulis saja. Itu doang.

* * *

Keesokan harinya tampak sesuatu yang berbeda menyentuh perasaan. Pikiran pun membetulkan. Dia sedang dijamah masalah. Tapi, tak langsung cerita. Curhat. Kekhawatiran bikin pikiran semakin mumet. Takut hubungan ini retak, sedangkan kebahagian baru saja dirasakan.

“Berilah kesempatan, Ade’ percaya pada Abang,” pintaku memelas.

“Kalo, itu memberatkan?” tawarnya serius.

“Kalo itu yang terbaik, kenapa tidak?” jawabku tak sedikit merasa getir.

“Gimana jika aku minta Abang jangan phone aku kembali sampai hari terakhir liburan pondok? Pada hari itu, aku yang akan panggil Abang duluan.” Dia menjelaskan.

Hati terasa berat menjawa “iya”. Kenapa itu yang menjadi tawaran atau persyaratan. Apakah aku akan menyerah? Mundur? Atau tetap maju, sekalipun pahit yang harus aku genggam? Bayangkan. Baru terjalin hubungan; kebahagian baru dirasakan, tidak boleh tidak harus stop komunikasi. Nurani memberikan jalan keluar. Setujui saja persyaratan tersebut karena itulah akan menjadi ujian menuju gerbang ketulusan. Sehingga, diraihlah kepercayaan untuk saling menjaga hubungan menjadi kekar.

“I-iya. Jadi besok kita cuti ya.” Aku jawab dengan nada tegas dan tegar.

Obrolan berlalu. Pikiran melamun. Serangkaian pertanyaan digadai. Kok bisa dia bilang begitu? Apakah ada yang ganjal dengan diriku? Tidak menyenangkan? Dengar suaranya terkesan sesak? Lihat koleksi fotoku tak betah? Mingibarkan sayap imajinasi tuk mengenang pertemuan dekat-dekat itu?

Sayangnya, aku masih bodoh menilik kondisi seseorang sehingga mudah menghasilkan kesimpulan atau jawaban. Dan mudah mengatasi masalah. Bisanya hanya menyerah. Menyerah. Sudah diucap break komunikasi sementara. Tak baik mengemis-ngemis agar kesepakatan itu direvisi. Diperingan. Aku laki-laki. Harus berani menghadapi masalah, sepahit apa pun. Menangis? Jangan! Nanti nilai kepriaanku pudar, karena aku terkesan feminin. Yakini saja itu keputusan terbaik, menjadi manusia terbaik pula. Semoga.

Keesokan harinya, aku buka fb. Dicek obrolan. Saat itu Ade’ juga online dengan akunnya, “Naila Aljazilah”. Apakah aku harus sapa dia? Tidak. Aku harus kuat. Tidak boleh melanggar kesepakatan. Seakan-akan kita tak saling kenal. Aku pun menunggu. Apakah dia akan kirim pesan ke inbox fb-ku? Nyatanya, tidak juga. Kita sama sabar.

Aku hanya iseng-iseng kirim pesan pada teman-teman yang lain. Agar tidak rugi buka fb. Kadang nunggu sebentar atau berlama-lama, karena lemmot (loading) terlalu lama. Update status pun tuk ngisi-ngisi keheningan media sosial. Tak begitu mengharap ada teman ‘komentar’ atau ‘suka’. Mereka lakukan, untung. Akhirnya, ditutup.

Suasana jadi sepi tak seperti hari-hari sebelumnya. Pikiran berdendang. Siapa yang ingin di-phone? Teman-teman? Orang tak dikenal? Huh.... Sudahlah. Tak baik mengikuti nafsu. Aku ingat. Nafsu itu adalah musuh yang nyata. Nafsu syu’, maksudku. Aku harus ikuti kata nuraniku yang dapat membimbing pada jalan kebenaran.

Menjalani ujian, bukan dilalui dengan perasaan marah, kesal, atau putus asa. Melainkan, jalani dengan penuh senyum, sabar, dan tegar. Cobalah baca cerita para nabi yang diberi ujian oleh Tuhan mereka. Agar, itu dapat dijadikan perbandingan. Yakin. Jika baca cerita mereka, pasti akan didapat banyak pelajaran. Bisa-bisa jadi pewaris para nabi dan orang yang takwa.

Sore harinya aku beserta temanku, Obama, pergi ke warnet. Ke sana bukan untuk online atau apalah, tapi untuk print sertifikat peserta kursus. Maunya print di rumah, printer-nya ngadat. Dapat dibilang rusak.

Usai print ponselku melengking. Nada panggilan terdengar jelas. Dilihatlah. Dari Ade’. “Lho, kok manggil?! Bukankah sekarang kita cuti?” Pertanyaan terkatung-katung menyesaki pikiran.

Diangkat. Isak tangis terdengar. Dia sadar. Di sela-sela keheningan yang membungkamnya; suaraku tak didengar, teringat dan merasa takut aku menjadi orang yang tersakiti. Dia percaya pada diriku tanpa persyaratan apa pun. Jadi, untuk cutinya di-delete saja. “Aku sadar saat baca-baca buku bahwa cinta akan menjadi rapuh tanpa kepercayaan,” jelasnya.

Aku membenarkan.

“Pokoknya, aku percaya sama Abang. Entah Abang berbuat apa pun di belakangku. Ada Tuhan yang akan membalasnya.” Dia kelihatan pasrah.

“Iya Ade’.” Aku men-support lirih.

“Apakah Abang benar-benar serius berkata seperti itu?” tanyanya memastikan.

“Iya. Aku tidak ingin menyakiti Ade’. Jika Ade’ menjadi pilihan Abang, jadi pilihan ini yang terbaik,” ketusku.

Aku jadi bangga. Kita dapat tersenyum kembali, sekalipun di ponsel. Kepercayaan telah menjadi tali yang mengikatnya. Semakin optimis cinta akan menjadi kuat, sekalipun arus membenturnya.

Aku ngerti. Dia telepon, bukan berarti menyerah, tapi berusaha berkutat pada pilihan terbaik. Dari pada bertahan dalam keheningan yang terus menikam dan membikin suasana tidak kaku, begitu pula perasaan tidak tenang, sebaiknya dihapus saja kesepakatan itu. Apalagi dia kan produsernya, sedangkan aku hanya membebek saja.

Panggilan diakhiri. Senja ditatap sebegitu indah terhias dalam pandangan. Knalpot sepeda motorku berderu. Kukendarahi, sedangkan temanku sedang membonceng. Dia tidak tahu kalau aku sedang bahagia.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...