“Eh, kamu suka baca atau nulis?”
“Suka baca.”
“Gimana kalo aku kirimin kamu buku?”
“Buku apa tah?”
“Buku tulis.”
“Iya, iya, iya. I like that. Artinya, kita tukaran buku diary?”
“Tukaran diary?” gumamku dalam pikir dan aku menyetujui, “Kalo tidak keberatan? It’s good.”
Percakapan di atas mendorongku berbuat hal yang sama sekali tak
terpikirkan sebelumnya. Sejak masih di rumah hingga belajar di pondok nulis
buku diary sedikit pun tak pernah terdorong. Hanya saja nulis esai atau
cerpen di buku tulis atau ketik di komputer. Itu pun morat-marit bahasanya. Aku
terkadang terkekeh-kekeh sendirian saat tulisan itu dibaca ulang sekarang.
Tulisan yang blak-blakan, bahasanya benar-benar terkesan jujur. Dibahas kondisi
pondok atau fakta yang diberitakan di media cetak (koran). Misalkan, pendidikan
pondok pesantren, pesantren sebagai institusi keagamaan, korupsi, pencabulan,
dan beberapa tema yang lain.
Tulisan esai. Aku belum tahu seperti apa sejatinya tipe tulisan itu. Hanya
saja dengar pesan teman-teman yang aktif nulis (esai) untuk mengetahui
tipe-tipe tulisan ini yaitu dengan baca esai-esai penulis terkenal. Sebut
tulisan-tulisan A.S. Laksana, penulis di rubrik Ruang Putih Jawa Pos,
dan Samuel Mulia, penulis di rubrik Parodi Kompas. Mereka dikenal
sebagai penulis tetap di ruang tersebut setiap minggu (hari Ahad). Tertarik
untuk baca tulisan-tulisan mereka semakin berapi-api. Setiap minggu tak absen
kunjungi koran-koran yang terpajang di depan masjid Jami’ Annuqayah. Eh,
ternyata tulisan A.S. Laksana nongol. Aku keasyikan baca tulisan itu. Bahasanya
sederhana, mudah dimengerti, kaya diksi, dan renyah pembahasannya.
Baca tulisan esai tersebut sungguh berbeda dengan tulisan opini yang
dimuat setiap hari selain hari Minggu di Jawa Pos. Dengan bahasa yang
tinggi (banyak pemakaian bahasa populer), masih perlu memeras otak untuk
memahami kalimat demi kalimat, begitu juga pragraf demi pragraf. Memang, data
yang disampaikan dalam tulisan tersebut cukup real, tapi itu....
Pokoknya, daya tarik untuk baca, bagiku, minus. Hanya opini milik Said Aqil
Siradj yang aku sukai. Aku suka karena bahasanya santai (sederhana) dan
pembahasannya mendalam. Didukung dia termasuk Ketua Pengurus Besar Nahdatul
Ulama (PBNU) tahun ini serta diakui kealimannya.
Tulisan-tulisan Samuel Mulia banyak aku kantongi. Tulisan itu hasil copying naskah aslinya yang dimuat di koran Kompas mingguan. Hingga
di-clipping pada sebuah buku bekas. Tak sulit aku baca dan menyelam dalam tulisan bertipe esai. Cukup open koleksi tulisan itu dan baca sepuas mungkin, hingga mata kaku karena
kantuk tak kuasa ditepis. Mmm, bahasanya sungguh sederhana. Tak kalah sederhananya dengan
tulisan A.S. Laksana. Bedanya, tulisan Samuel Mulia lebih informal dibandingan
tulisan A.S. Laksana. Judul tulisannya pun banyak dalam bentuk kata atau prase seperti Mumet; Peta; Mata Hati; Baru; Tumpul; Mari Menyaring; Menolong; Nasibku Bukan
Nasibmu; Identitas Baru; Rumah Nan Indah; Galau Lagi Galau Lagi; Liburan; “Loyal Wedding”; Berpikir Positif; “Besok, Besok,
Besok”; “Body Lotion”; Manusia Visual; Pimpinan; dan beberapa
judul-judul yang lain. Coba dibandingkan dengan judul tulisan A.S. Laksana.
Sebut, Cara-Cara Naik Kelas; Sang Alkemis dan Istiqhotsah; Problem Serius
Masa Bodoh; Berkutat pada Kedangkalan; Hal-Hal Cekeremes; Kreativitas yang
Menyedihkan; Juara Dunia, Akhirnya...; Bagaimana Mengenali Manusia Penjahat;
‘Reshuffle, Hal Tidak Penting’; Ketika Air Sebatas Leher; ‘Naik atau Tidak,
Bukan Itu Masalahnya’; Juru Dongeng yang Baik; Karakter yang (Tak) Bisa
Dipercaya; ‘Dana Aspirasi, Inovasi Asli Indonesia’; dan yang lainnya. Beda bukan? Tentu.
Nulis cerpen ya pernah. Tapi, tak sampai bertahan cukup lama. Awalnya interesting, akhir-akhirnya la yamutu wala yahya. Mati segan, hidup pun
enggan. Dari semangat menjadi malas. Daya tarik menjadi cerpenis, semakin kering. Malah, dibuat tertarik
nulis-nulis esai. Alhamdulillah hingga kini masih tetap bertahan, sekalipun di
tengah jalan kadang mahok juga.
Nulis cerpen awal kali tumbuh, karena tertarik dengan bahasa sastra yang membumbui tulisan. Mudah pula dimengerti. Dalam kondisi santai disodori
tulisan cerpen persis saat haus dikasih
secangkir air. Tuk
berkata ‘tidak’ jauh dari mustahil. Apalagi air dingin yang mampu menghapus
dahaga. Begitulah, tulisan cerpen. Rekaan, menarik. Mayoritas cinta yang banyak
berperan hingga terciptanya karya sastra ini.
Kini, hasrat
nulis cerpen tak tumbuh kembali, malah fokus nulis esai saja. Fakta, lagi kaya sastra.
Beberapa tulisan, ada yang telah dibaca teman sepondok, ada yang berdiam
membeku di dalam buku tulis. Sering kritik konstruktif dan masukan muntah. Dan
memang itu yang aku harap. Baik dan perkembangan tulisan tak lepas dari masukan
para pembaca. Sebab, menulis juga untuk dibaca, baik untuk pribadi atau orang
lain.
Kekendoran ini bukan salamanya. Faktanya, baca cerpen masih menjadi langganan, sekalipun bukan langganan tetap. Banyak cerpen-cerpen di media nasional, Jawa Pos,
Kompas, atau Horison yang sering menghibur kepenakan pikiranku. Ditambah baca-baca novel yang isinya tak jauh berbeda
dengan cerpen. Sebut, Ketika Cinta Bertasbih, Cinta Suci Zahrana, Bumi
Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra (karya Habiburrahman El-Shirazy); Sang
Pemimpi (karya Adrea Hirata); Perahu Kertas (karya Dee); dan Tarian
di Ranjang Kiai. Novel-novel yang aku baca lebih banyak karya Kang Abik
(nama panggilan Habiburrahman El-Shirazy). Isinya menyentuh dan mampu memotivasi. Novel yang
kebanyakan mengisahkan percintaan dari Indonesia hingga luar negeri seperti
dari Indonesia ke Kairo-Mesir, Rusia, Beijing-Cina dan lain-lain, seakan-akan
aku tenggelam di dalamnya. Usai
baca novel karya Kang Abik, dorongan menimba ilmu di
luar negeri berapi-api. Sungguh latar novel itu masih belum aku
pijaki. Menarik!
Itu sekilas cerita. Sedikit. Nulis diary baru menjamah semangatku
hendak mendapat tawaran tukaran diary. Makanya, saat diary Ade’
Naila sampai di tanganku, aku mulai nulis pada lembaran awal. Seingatku bahasanya seperti ini,
“Masih baru sekarang aku nulis diary kayak gini.” Kata-kata ini dapat dibilang penyesalan karena baru sadar bahwa menulis diary penting.
Bisa juga disebut ekspresi kegembiraan karena menulis di diary merupakan
langkah awal menjadi penulis, lebih-lebih menemukan kepribadianku yang
sebenarnya. Kadang aku berlagak sok tegar dan tersenyum, hakikatnya sedang bersedih. Nah, melalui diary ketidakseragamaan
antara aura muka dan hati dapat terpotret sejujurnya di dalam diary itu. Malu mengungkap segala isi hati sulit menjerat tangan menulis menjadi kaku. Beda hal, jika disampaikan bil
lisan, kadang kaku membungkam mulut berujar. Diumpet-umpet karena malu, sungkan, atau takut yang tak dapat ditepis. So, ditulislah di halaman pertama diary-ku, “Find me
in my diary.” Temukan aku di buku harianku. Apa yang tertulis di sana,
adalah Khalil yang sebenarnya.
Diary Ade’ masih aku
ingat. Cover-nya tebal berwarna hitam. Kertas di dalamnya
berlapis-lapis, tebal, dan kosong. Hanya ada beberapa lembaran di muka yang
sudah terisi dengan freface dikirimkannya diary dan lain-lain. Aku terperanjat membaca pengantar itu. Isinya bernada kritik pedas atas diary yang aku kirim lewat Ulfah.
Diary-ku tak sesuai dengan kondisi dia sekarang. Diary berwarna pink, diitari gambar unyil, dan kertas yang
berwarna-warni, terkesan childish. Kekanak-kanakan. Padahal dia bukan dalam usia anak-anak lagi. Dia sudah punya KTP dan kelas 3 MA.
Respons negatif kayak itu tak sempat aku pikir sebelumnya. Dikiranya itu diary yang baik
dan layak dikonsumsi orang seusiaku, umur 15 ke atas. Anggapan itu berawal dari
lihat-lihat dan ingat-ingat diary yang banyak dibawa teman-teman saat
sekolah tempo dulu, MTs. Mereka banyak nulis aktivitas kesehariannya dalam diary
seperti yang aku beli. Thus, adanya support penjual akan buku harian itu. Ia
sodorkan itu sambil berucap, “Nih buku yang sampean butuhkan.” Apalagi Ulfah pun membenarkannya
dengan ajungan jempol. Sip…! Setuju akan pilihan diary itu. Saat itu tak ada yang
ganjal atau minus sedikit pun.
Itu anggapanku. Tapi, tak semua yang dibilang kita benar, benar pula menurut pandangan orang lain. Kadang
terjadi keganjalan. Karena, mindset masing-masing orang tidak sama. Nah, penyelidikan
atau peka objek sangat menentukan keseragaman antara harapan dan
kenyataan. Tak sampai bikin masalah.
Sedangkan, masalah itu (ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan)
terjadi karena keteledoran, kurang telaten, tergesa-gesa, serta kurang pertimbangan. Ya,
tidak kenapa (no problem). Biarlah yang terjadi di masa silam menjadi pelajaran di masa mendatang. Kekurangan bisa jadi kesempurnaan nanti. Aku sadar usai membaca pengantar diary itu. Kritik konstruktif benar-benar jadi cambuk mengenal kepribadian Naila lebih jauh. Kesukaan dia apa? Dan diary seperti
apa yang dia sukai? Denyut semangatku semakin berapi-api.
Pada page berikutnya, kesan terkejut tertulis di diary-nya.
Baru sekarang ada orang, katanya, di-kasengkai[1],
terhormat dan baru kenal sudah berani tukaran diary. Dia bilang
kalau bukan karena ajakanku, bisa
jadi dia tidak menyetujui. “Bayangkan malu tau!,”
tulisnya.
“Kenapa harus aku yang ia kasengkai?” tanyaku membatin. “Kenapa ia nurut atas ajakanku?” tanyaku yang lain.
Entahlah, apa sebenarnya jawaban di balik semua itu. Aku pikir tukaran diary
merupakan langkah terbaik untuk mengungkapkan perasaan yang lama terpendam di dalam hatiku. Jika aku sampaikan bil lisan, dirasa bukan waktu yang tepat. Dikiranya, aku alay amat.
Baru kenal plus belum ketemu, sudah berani bilang cinta. Biarlah cinta
itu terlepas dan menjalar dengan pelan. Di dalam diary itu semua bicara hati mulai gelisah tumpah dalam
ikatan pena.
Kalau sudah takdir, semuanya
akan terkesan mudah. Jauh akan terasa dekat karena pikatan cinta. Namun, ikhtiar penting dari pada pasrah polos (bukan tawakal). Sebenarnya, takdir erat
akan restuNya sebagai penentu final. Karena, Dia yang ada di atas semua
ini. Hal terpenting bagi manusia, praduga positif. Setiap sesuatu yang
diusahakan akan ditentukan oleh dugaan (al-dzan). Bukankah Tuhan
berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, “Ana inda dzanni abdibi.” Aku
tergantung dugaan hambaKu. “Cinta itu akan menemukan muaranya,” yakinku.
* * *
Siang hari, matahari kelihatan di atas kepala. Sinarnya menusuk-nusuk pori-pori kulit. Suara mobil terdengar menderu. Itu sudah menuju area rumahku. Tak
lama mobil itu sudah masuk halaman masjid dekat rumah. Terlihat banyak
penumpang dari kalangan santri yang hendak kembali ke pondok usai berlibur. Pelan-pelan kaca mobil dibuka. Angin bebas masuk. Mungkin, udara kurang
mendinginkan badan mereka penuh keringat. They feel hot. Aku pamit sama Abah dan Umi. Tangan mereka sedang aku cium. Tas mendekap dalam gendongan. Di dalamnya sesak pakaian-pakaian yang hendak dibawa ke
pondok.
Umi terlihat keberatan menjinjing snack dan nasi yang terbungkus dalam satu kardus. Iba sempat menyihir
hati untuk ringankan beban. Tapi, dia tak menggubris. “Kebahagian anak lebih
penting dibandingkan kenyamanan dirinya,” pikirnya.
Saat mobil sampai di Madrasah Al-Fur’qan-Keles, sekolah di mana
dulu aku menimba ilmu sebelum tahun 2009, para santri putri plus putra
sedang menunggu mobil tiba. Ketika
mobil kentara di hadapannya, mereka bangkit dan menuju mobil yang tak jauh dari
arah mereka. Mereka bergegas masuk sambil edarkan pandangan dan cari tempat
duduk kosong. Dari dalam mobil mataku melotot ke luar. Terlihat yang hadir, Ulfah. Sebenarnya, aku sudah
tahu jika dia akan ikut rombangan bareng kita karena sebelum berangkat dia tanya jam pemberangkatan. Sungguh tepat diary itu
dititipkan padanya. Tapi, bukan waktu yang tepat buku itu diserahkan
sekarang. Gumamku mencerocos. Lihat-lihat di luar masih banyak orang tua santri. Bisa-bisa jika tetap dipaksain,
mereka kira yang tidak-tidak (negative). Biar mobil itu melaju dulu. Nanti di tengah jalan, atau setelah sampai di pondok, buku itu akan aku berikan. It’s good idea.
Di area Asta Tinggi, seorang penumpang mabuk berat. Sopir merasa iba, melihat kondisi jika mobil
tetap dipaksakan melaju terus. So, mobil diparkir di trotoar jalan depan
dekat asta tersebut. Di sana penumpang banyak
keluar. Sebagian ada yang bantu-bantu pijat tengkuk pemabuk. Sebagian yang lain cari-cari angin segar. Sebagian yang lain betah berdiam
di dalam mobil dengan jendela terbuka. Sehingga, tiupan udara bikin cool. “Fah, ini buku diary-nya. Jangan lupa berikan padanya,” perintahku kayak raja penguasa saja. Ia tak menjawab
sepatah kata pun. Hanya dia balas dengan senyuman yang dibuat-buat.
Mobil berangkat kembali setelah suasana kembali mereda.
* * *
Waktu terus bergulir. Aku tak tahu sudah diisi atau belum diary itu. Tapi, aku tanya pada Ulfah saat manggil. “Awal-awal buku itu nyampek , mbak Nay sering bawa buku itu. Kadang di tengah malam dia nulis. Tapi, akhir-akhir kelihatannya buku itu tak kelihatan lagi,” ceritanya.
“She is mousy,” gumam batinku lirih.
Aku hanya tersenyum mendengar cerita itu. Aku tidak perlu
banyak tahu tentang keadaan buku itu sekarang. Aku sudah percaya penuh buku itu
ada di tangan dia. Pasti buku itu sudah penuh dengan cerita kesehariannya; bahagia, sedih, dan lain-lain. Hatiku yakin. Tak baik nyangka yang
tidak-tidak (su’ud dhan)
Buku itu tak sempat aku tanyakan kabarnya hampir setahun, kira-kira 10
bulanan. Karena, ada banyak aktivitas pondok seperti membimbing anggota kursus
BPBA English. Apalagi aku menjabat sebagai ketua di lembaga bahasa tersebut.
Sibuk? ‘Ya’. Menjaga image positif
amat penting.
Buku itu diketahui kabarnya saat diterima langsung dari orangnya di Pakong kemarin.
Sejak itulah aku baca isinya langsung. Aku membukanya saat berhenti shalat
maghrib di masjid tengah jalan usai pulang dari sana. Begitu pula di rumah atau di pondok. The
diary is always in front of eyes.
26 Januari 2012
“Tidak untuk mencela Abang Mr. Tapi sumpah diberi
buku seperti ini seperti anak kecil Mr... Hemz... Aku di sini juga capek. Maaf ga’ nyambung Mr... tapi setidaknya
menyesuaikan dong Bang. Aku kan kelas XII sudah bukan anak TK lagi. Setidaknya
meski memberikan diary kan tidak bertipe anak-anak seperti ini...”
“So, ini akan kuambil sedangkan untuk Mr. Aku akan
berlikan yang baru. Sedangkan punyaku
yang akan diisi akan kukembalikan. Sudah tidak ada apa-apanya lagi... kupikir
ada tulisannya... biarlah akan Aku jadikan kenangan bahwa buku diary dan bolpen
X-6 007 Black ini dari sampean.”
“Tak perlu diumumkan Mr... tapi setidaknya hanya
buku ini serta beberapa orang saja yang tau... tak tau seperti apa Abang Khalil
kayak apa? Dan Aku terkejut ketika harus Abang yang ngajak Nayla tukeran diary.... Betapa tidak, seorang yang dikasengkai seperti sampean bisa
seperti ini sama Nayla. Aku yakin akan sulit menebak karekteristik Abang. Tak
perlu banyak tau langsung dari sampean, cukup tau dari orang-orang sekitar. Ternyata sampean adalah orang yang dihormati dan
disegani….”
“Ckckck... sungguh tak habis pikir. BUKU DIARY INI
SEKALIGUS PEN INI MILIKMU, KAN? DAN IKHLAS NE BUAT AKU, MESKI SEDIKIT KECEWA. From Abang Mr.
Khalilullah (Mr. Holy)”
------------------------------------------------------------------------------
02 Januari 2012
“Maaf Mr. baru sempat nulis.... Harus bagaimana lagi, sempatnya nulis, baru juga sekarang? Aku cuman sekedar capek aja
ngerasa Aku harus ngapain ama diary ini. Semacam ga’ ada yang bermanfaat.
Sekedar coba-coba pen aja. Sebenarnya, huh... capek... capek...!!! What must I
do? If like this I am tired. I am bored and still many many many ih chicken,
yellow, fuck, kulshit! Ehm... nyebelin tau, ga’ biasalah manifestasi perasaan emang kayak
gini kan? Aku benci tau Aku benci Mr... sebel Abang... sebel...! Dasar dunia!
Ini Aku yang bisa sepuasnya nulis kayak anak kecil."
------------------------------------------------------------------------------
Abang_Nay
Nay , 21 Pebruari 2013
“Good morrow!”
“Ga’ ada yang mau bilang sich sepagi ini, abisnya memang ga’ ada yang mau yang ungkapin
otakku lagi, proccessing be
blank….”
“Ehm... so low capacity hehehe exactly Aku
sekarang lagi behind my shadow. Gitu istilahnya berlindung di belakang bayang-bayangku yang palsu.
Sepesipiknya Aku lagi kelimpungan klo tugas artikel yang Aku janjikan itu malah
bikin Aku repot sendiri. Gimana ga’? cari artikel itu cukup sulit. Ehm... sok
nyanggupin bagian bahasa Indonesia ini. Sebenarnya, Nayla kan pengin bisa aktif, ternyata ga’ taunya kelimpungan
sendiri. Teman-teman yang lain enak-enakan santai. Eh... si Nayla sibuk dengan
sendiri cari artikel plus presentasi.”
“Kalau diperbuat sich semua sesuatu ga’ ada yang
salah kok hanya saja bagaimana cara kita menjalankan and think about. Itu
aja.... Untuk semua yang dibilang bahwa segala sesuatu yang positif selalu
nikmat ada benarnya juga sich, seperti keadaan yang terjadi ama Aku ini.
Kesannya kan nyalahin waktu gini padahal jelas-jelas ini sebuah kesengajaan,
mau dibilang ketidaksengajaan. Seingatku, Aku nyadarin itu semua. Sekarang,
takdir besok aja yang akan ngebawa gimana dan apa sesuatu yang akan terjadi di
esok hari.”
“God! Doaku selalu tanpa batas then thanks Rabbi. You’re
the greatest.”
------------------------------------------------------------------------------
24 Maret 2013
“Abangku yang Nayla hormati...”
“Abang, bukanya Nayla ga’ mau hormat ama Abang
sebagai kaka’ yang lebih tua. Tapi ini semua implikasi dari semua kabar yang
masuk ke pikiran Nayla.”
“Dan untuk permulaan sekaligus pernyataan yang
semoga termaafkan. Nayla mengaku kalau Nayla salah Abang. Dan semoga ucapan ini
yang keluar dari mulut Nayla ini.”
“Abang maafin Ade’mu ini ya! Ade’ yang freak,
queer, selfish, bad tempered dan quick talker ini. Cz kemarin Ade’mu ini baru
sadar klo pesan-pesan Abang masih Aku ingat dan Aku catat rapi-rapi. ‘Jangan
menyakiti hati orang lain’”
“Aku takut Abang. Aku takut kata-kata Abang
ucapkan harus Abang rasakan karena unsur kesengajaan dari perbuatan Nayla.”
“I try to make myself believe in that all our life. I’ve been good. Yups try it!”
“Abang...”
“Actually you’re always be there in my place. If I
think gonna hold down and when can’t nobody tells me nothin and this’s what gets me closer to you
and no one knows why I’m into you or you to me. Finally, I don’t want to care again what they say. Cz
seems like everyday that go by thing are
gettin’ harder. I only afraid/worry Abang. Your begging fool me. I am really
afraid.... You have been a
fool me. And do you know what a strating? I was so misunderstanding till I am
crazy with this issue, push me, pull me than I am caught between wrong and
right! I only want they say understand it all about us in good time but not
now.”
“Abang, Nayla ingin minta sesuatu sama Abang
biarlah cukup komukasi kita lewat email dan fb untuk sekarang. Jangan ada orang
yang tau klo Aku dan Abang saling dekat (closer). Jangan sampai ada yang tau?
Nayla malu Abang.... Nayla ga’ ingin
Abang regret to introduce ama Nayla. Nayla sudah senang Abang Khalil menjadi
penyemangat Nayla. Jadi, Abang yang ga’ punya dalam dunia real-nya Nayla. Perlu
Abang ketahui, Nay peduli sama Abang. Nay ga’ ingin Abang malu karena Nay.
Nayla ga’ ingin Abang ga’ punya muka karena Nayla dan semoga Abang juga
merasakan apa yang Nay rasakan.”
“Nayla ingat kalau sikap itu merupakan kualitas
awal yang tampak pada orang yang nyata kebaikannya kerena dia selalu berpikiran
positif sehingga orang tersebut dikenal orang karena kebaikannya, tapi hanya
sedikit yang mengaplikasikannya. Nayla ingin jadi yang sedikit itu, hingga Nay
dikenal karena kebaikannya juga. Cz I believe always there is someone watching
over me and always looking at me from the passengger side....”
“Abang... mengenalmu adalah anugerah!”
“A miracle cz banyak pelajaran dan secret things
yang ga’ bisa diungkapkan melalui pikiran, tapi Nayla yang hanya dapat merasakannya logika
(akal) di hati, begitu pula dengan Abang kan?”
“Abang... once more forgive me please! Atas
tuduhan-tuduhan, kata-kata, atau pun ucapan-ucapan Nayla yang ga’ mengenakkan
hatinya Abang. Sumpah... Nayla ga’ ingin menyengaja. Maafin Nay Abang... maaf,
maaf, dan beribu maaf dan terima kasih.”
“Note: klo bisa foto profil Abang diganti dong!
Mungkin saran doang ya?! Abang terlihat tampan dan bersahaja klo pake’ kopyah
bahkan itu akan memperjelas status kesantrian Abang. So, ganti dong klo bisa your
profil picture!”
“Hehehe udah dula ya Abangku. Moga always bless
you! Amien.”
------------------------------------------------------------------------------
Monday, 15 April 2013
“Waw...”
“What’s your up today?”
“I only wanna say, ‘fighting Nay ’.”
“Bismillah...”
“Sekarang UN-ku. Kabar dari guruku ga’ bakalan ada
subsidi. Aku tau guru-guru pada nangis kemarin ketika istighasah bersama. Alam
ikutan mendung. Adik-adik kelas X dan XI diharuskan memanjatkan doa dan semoga
aja ga’ sia-sia. Meski aku ada di UKS pas ceremony gara-gara body-ku yang ga’ fit. Ckckck...
sudah berapa hari. Tapi al-hamdulillah itu kemarin-kemarin, sekarang Nay
mendingan and siap untuk berangkat, tapi sebelum itu cek dulu... ya sudahlah lengkap! UN sekarang memang
beda. Kenapa harus bagianku yang kayak gini....”
“Be patient... hehehe (seperti yang sempean bilang
kan?). Okay aku berangkat dulu takut masih ada check in
peserta atau pengumuman plus penjelasan dari pengawas. Okay... Nay, Allah...
selalu bersamamu! BISMILLAH”
------------------------------------------------------------------------------
25 April 2013
“Ehm... ga’ kerasa sudah menjadi hari-hari yang
sudah lama banget dilalui. Ya... ya... ya... tinggal beberapa hari lagi sampean
hendak pergi ke PARE. Selamat ya... sudah bikin anak EC tambah kelimpungan,
tambah jealous, tambah envy, dan tambah-tambah lainnya yang lupa bahkan ga’
muat disebutin. Sekarang Nayla sudah selesai UN... tinggal nunggu pelulusan.
Cuman ngarep ilmu barakah dari pelulusan nanti. Pertanyaan besar bagi sampean.
“Ketika Nayla UN, Abang Khalil doain Nay ga’ ya?” Ckckck... masya Allah ga’
perlu ditanya udah tau jawabannya.”
“Ehm... untuk taking ready yang mau berangkat
jangan lupa ya bawa sendok, garpu, kompor, pisau, wajan, dan beras... (eh
dikira mau tata boga) Sorry... maksudku perlengkapan yang hendak dibawa jangan
sampai terceceran. Mending di-list aja barang-barang yang mau dibawa biar ga’
masih susah-susah hari H. Terus, persiapan ini merupakan hal yang urgen. The
first thing, main thing ga’
cuman persiapan keilmuan. Persiapan mental atau fisik gimana? Dijaga dari
sekarang. So, hari jadi ga’ kekurangan anggota, moreover Abang sendiri, kepala
rumah tangga di acara ini. Kalau Abangnya timpang, yang lain ikutan buyar dech.
Meski ada ketua panitia, tapi klo ga’ ada kordinir dari Abang, semuanya hancur.
Weak. Dan untuk hal-hal yang lain, silahkan pikirkan sendiri tapi Abang yang
lebih tau tentang dirinya Abang. Cuman sekedar ngingetin JAGA KESEHATAN, JAGA
ANAK-ANAKNYA. Mereka tanggung jawab Abang dari kiai.”
“Untuk surat yang Abang kirim, maaf, mau dapet
dari mana kamera di sini. Sulit banget. Dik Ima (chief) punya tapi apanya ada yang rusak.
Jadi sekali lagi maaf, tapi kalau mau dijemput di Situbondo (ke rumah) ga’
apa-apa. Punyaku pas ada di depan tv. Emang ga’ dipake’, dijemput di rumah.”
“Untuk selanjutnya, maaf ya Abang klo aku punya
salah ya... Nayla emang sadar kalau kata sampean, “Jangan menyakiti hati orang
lain”. Maaf, klo ternyata sampean sendiri yang tersakiti. Habisnya Nayla ga’
suka digojlokin, apalagi dari kabar yang masuk ke LUBRI, katanya anak-anak BPBA
gojlokin Abang sama aku. Dan aku sungguh marah plus benci dengernya. Nay pernah
sangat sangat sangat membenci Abang ini. Maaf, dik Ulfa lebih tau dan mungkin Nayla mencoba
mengambil pikiran positif dan membuang pikiran negatif. Sekarang Nayla memang
belajar sabar, typus-nya Nayla
ga’ mungkin sembuh 1 minggu, 2 minggu-an. Untuk penyakit ini minimal 1 bulan
dan bersabar tetap di pondok, tetap jamaah, berangkat sekolah plus melakukan
aktifitas seperti biasa. Meski panas itu turun naik, turun naik apalagi malam
hari, mau gimana lagi? Ketimbang pulang bukan rumah sendiri (ngerepotin
adanya). Mending mencoba bertahan. Semoga tahan beneran. Amien. Semoga dibaca
aja di perjalanan. Bawa ya!”
“Jangan lupa klo aku masih berarti, ingat
oleh-olehnya. Hehehe... bercanda semoga kembali selamat aja. Amien.”
------------------------------------------------------------------------------
Rabu, 01 Mei 2013
“Assalam Abang...!”
“Maaf, pasti Abang sudah datang dari Pare ya?
Hehehe sorry ya bukunya ga’ sempat kutitipin ke temanku supaya dikirimin ke
Abang abis ketika mau pergi ke Lubsel. Untuk ngasih bukunya, keadaanku kembali
lagi seperti semula, kepalaku pusing. Jangankan jalan, duduk aja rasanya
miring. Rencananya aku bakalan kirimin buku ini supaya ga’ stress plus nervous. Eh... ternyata bukan takdirnya.
Mungkin ya.”
“Ehm... maaf lagi keadaan bukunya sudah agak
berubah dari bentuk awal. Abisnya kalau hiasan putih di depan tanda waru ga’ dibuang,
terkesan childish tau.... Kuncinya juga sudah rusak plus ga’ kupakai. Emang sengaja... maaf ya
bang... klo pikirannya Abang aku ga’ bisa menjaga kepunyaan orang. Habisnya ga’
sesuai dengan keadaanku (klo menurutku sich!). Sorry sorry sorry and sorry
banget. Ya cuman mau berkabar tu doang. Maaf ya Bang? Kan Mr. Khalil orangnya
penyabar. Amien. Moga saja benar. Doakan
ya buat Nayla... supaya apa yang Nayla impikan selama ini tercapai. Dan tak
sedikit pun Nayla punya niatan buat ngubah apa yang Nayla inginkan. Cz Nay yakin seyakin-yakinnya Allah lebih tau dan Allah meridaiku selama Aku
ada di jalanNya. Biarkan Allah
tau sendiri. Ya gimana pun juga Allah pasti lebih tau duluan. I mean Nay ingin
Allah melihat usahaku, dari Nayla orang biasa yang sedang berproses menjadi
orang luar biasa dan cukup hentakkan perubahan dari saat ini juga untuk
mengawali kehebatanku dari pada kesetianku pada proses. Karena Aku yakin orang
hebat, success, dilihat dari kesetiaan pada proses dan Aku tak kan pernah lupa
dengan rida Allah pastinya dan Aku cukup menyorakkan kesuksesanku pada saatnya.
Karena, Aku yakin Aku salah satu dari orang yang berada pada barisan itu. Maka
dari sekrang aku cukup berkata, “Allah, Nayla hebat! Untuk mengawali
kehebatanku dalam berproses”. My best wishes. Nay Sydney.”
* * *
Membaca isi diary itu sungguh aku dibikin seperti mendengar dia (penulis) cerita vis. Tulisan yang komunikatif, naratif (disampaikan dalam bentuk cerita), dan rekleksif (bersifat perenungan), apalagi bahasanya sederhana, mudah dipahami dan dicerna. Bahkan, disertai kata-kata asing (bahasa Inggris) sebagai perwujudan dari tipe penulisnya keen on bahasa itu.
Hal yang dapat dipetik dari isi diary itu. Pertama, kejujuran
dalam menulis kata hatinya. Pada 26 Januari 2012 dia menulis, “Tidak untuk
mencela Abang Mr. Tapi sumpah diberi buku seperti ini seperti anak kecil Mr….
Hemz... Aku di sini juga capek maaf ga’ nyambung Mr…. Tapi setidaknya
menyesuaikan dong Bang. Aku kan kelas XII sudah bukan anak TK lagi. Setidaknya
meski memberikan diary kan tidak bertipe anak-anak seperti ini....”
Sungguh mengkritik diary yang kukirimkan beberapa hari silam. Karena,
bentuk diary-nya tak pantas dipakai orang dewasa kayak dia. Sebaiknya,
buku tersebut dipakai untuk seusia anak-anak yang jenjang pendidikannya TK atau
baru mulai belajar di MI. I’m sorry I can’t give the
best thing for you, Ade’.
Kedua, penulis bukan
ateis. Dia masih percaya akan Tuhan yang dapat memberikan pertolongan, dan
mendengar segala doa-doa yang dipanjatkan setiap waktu. “God! Doaku
selalu tanpa batas. Then thanks Rabbi.
You’re the greatest,” tulisnya. God sebutan lain dari Allah SWT
masih ia seru. Dan ucapan thanks Rabbi yang dapat dibilang merupakan
wujud rasa syukur penulis terhadap Tuhannya. Tidak takabbur dan angkuh. Tak ditemukan isi diary-nya bernada ateis (tidak percaya Tuhan). Pasal? Bisa jadi, latar belakang kelahirannya di lingkungan yang bertuhan, lebih-lebih beragama. Bukan God
without religion. Thus, latar pesantren yang menjembatani gaya hidupnya. Tahukah? Pesantren kaya ajaran Islam; tauhid, fiqh, dan tasawuf.
Ketiga, tidak keras kepala.
Karakter baik tergambar
dari tulisannya, “Abang, maafin Ade’mu ini
ya! Ade’ yang freak, queer, selfish, bad tempered dan quick talker
ini. Cz kemarin Ade’mu ini baru sadar, klo pesan-pesan Abang masih aku ingat dan aku
catat rapi-rapi. ‘Jangan menyakiti hati orang lain’”. Pesan bijak atau apalah aku ucap
sehari sebelum diary itu dikirimkan. Pesan itu refleksi sakit hatiku yang menjamah karena putus
cinta. Sakitnya tak dimengerti. I
want the broken heart is final in my life. Semoga perkenalanku dengan dia (Ade’) dihias dengan mawaddah wa rahmah. Amin….
Ia merasa sadar rentang beberapa bulan, tak ada kabar karena marah atau jemu ala pesan inbox fb-nya yang dikirim ke inbox fb-ku. “Apa??? Aku becik, becik, becik.” Begitulah tulisan
pesan yang aku ingat.
“Maksudnya? Apa salahku?” balasku bingung.
Hingga, dia kirim pesan persis
isi diary di atas, walau dengan bahasa berbeda.
Kata-kata maaf karena sadar digadai.
“Al-Hamdulillah, mentari itu tersenyum kembali.” Balasku terkirim ke inbox fb-nya.
Keempat, benih cinta semakin mekar. Kalimat mafhum dari petikan isi diary-nya.
“Abang, Nayla ingin minta sesuatu sama Abang. Biarlah cukup komukasi kita lewat email dan fb untuk sekarang.
Jangan ada orang yang tau klo Aku dan Abang saling dekat (closer).
Jangan sampai ada yang tau?” Pengakuan
yang jujur, tapi masih ragu-ragu. Isi hatinya yang
meletup-letup bagai balon hampir meletus. Ia rasa tak ada jarak antara aku dan dia seorang. Kita kelihatan dekat, malah lebih dekat (closer). Hati makin menyatu, karena kecocokan jiwa. Sebab, sejak itu masih belum sempat ketemu dan lihat vis. Sekedar otak-atik
fotonya yang terkoleksi. Apalagi, ia terlihat gugup atau ragu-ragu curhat kata
nuraninya pada teman sekitar. Hanya curhat di diary yang sedang mendekap di pangkuannya. Gugup ditambah khawatir kerena takut kebobol orang lain. Tragisnya,
jika terbaca publik, gosip datang bermunculan. Muntah dari semua sisi. Bikin risih.
Kelima, suka cowok sederhana dan berpenampilan islami. Coba baca petikan isi diary-nya.
“Klo bisa foto profil Abang diganti dong! Mungkin saran doang ya?! Abang
terlihat tampan dan bersahaja klo pake’ kopyah bahkan itu akan memperjelas
status kesantrian Abang. So, ganti dong, klo bisa your
profil picture!” sungguh, tak terkira apa
yang dia pikir.
“Al-Hamdulillah.” Aku bersyukur. Bibit cinta semakin tumbuh. Ya, lewat dua buku harian itu.
“Two diaries are our histories for decorating life, aren’t they?”[]
No comments:
Post a Comment