Tak terhitung lama flashdisk yang kukirimkan beberapa hari silam,
masih dia pegang. Itu masih belum dikembalikan. Ya, dikirim lewat KAMTIB
pesantren atau melalui siapa pun. Yang penting kembali dengan sempurna. Mau
kirim surat, tak mood. Dirasa ganjil kirim surat pada seseorang yang baru
saja akrab, apalagi tak pernah coba-coba tulis surat untuknya. Takut, terkesan
sok akrab atau timbul gosip tidak sehat. Kan, tahu sendiri, teman-teman
pondok amat refleks dan terlalu blak-blakan memberikan kesimpulan gelagat
seseorang. Digosip, jadian sama santri putri atau apalah. Pusing dengar
gojlokan tiap hari tak kunjung pudar.
Bisaku hanya kirim surat dan panggil Ulfah. Padanya minta tolong untuk
kasih tahu kalau flashdisk-ku sangat dibutuhkan. Penting, karena file-file
penting di-save di dalamnya. Bukan sok sibuk, tapi kadang ada
tugas kampus; makalah, atau print sesuatu. Justru amat merepotkan atau
sulit pinjam flashdisk milik teman, sekalipun teman sekamar,
berkali-kali. Mereka akan merasa tidak enak melayani kebutuhanku. Karena,
setiap flashdisk biasanya tersimpan file-file pribadi pemilik.
“Takut dibuka dan tersebar ke mana pun,” pikir mereka.
Suatu hari aku sempat beli surat penggilan famili (saudara sekandung, atau
sepupu) pada pengurus KAMTIB. Tapi, surat itu tak langsung legal sepenuhnya.
Masih minta idzin dengan isyarat tanda tangan kiai. Surat itu diserahkan
padanya di tempat biasa santri menemui beliau, yaitu dekat dapur sebelah barat
kamar mandi pengurus dan tamu. Kaki gemetar dan tak kuasa berdiri di
hadapannya. Denyut jantung berdetak kencang. Karisma kiai terasa menyelusup ke
sekujur tubuhku. Sedikit menggigil seperti kedinginan.
Kaki mundur waktu surat dikembalikan usai ditandatangani. Ya, aku kembali
ke pondok untuk meletakkan buku sebagai meja jalan buatan di tempat
semula. Surat itu dilipat dan diletakkan di dalam saku atau dibiarkan berdiam
di selipan kertas buku. Biar tak ketahuan teman-teman kalau aku sekarang akan
kunjungi saudari di Lubri. Tuk jaga kegaduhan yang sulit diredam. Biasanya,
kalau mereka tahu, order sampaikan pesan pada santri putri atau si doi tak
dapat ditepis. “Salam ke ....” Kira-kira begitu ucapnya.
Sayang, rahasia diumpet-umpet, akhirnya bocor juga. Aku sudah berusaha tuk
sembunyikan dari mereka. Tapi, mereka peka situasi. Jika mau manggil, yang
biasanya kenakan pakaian ala kadarnya, sebelum berangkat ke lokasi pemanggilan,
varian pakaian; mulai songkok[1],
baju, dan sarung, begitu pula harum-haruman menghias. Bukan karena ingin
ketemu si doi, tapi takut ketahuan tidak ressek[2].
Selain itu, agar orang di sekitar betah atau tidak terganggu. Bukankah
Allah Maha Indah dan mencintai keindahan? Pasti, inna allaha jamiilun
yuhibbul jamal. Kubaca kalimat itu yang dipajang tepat di depan asrama BPBA
English.
Celotehan mereka sungguh mengusik pendengaran. Salam kenal, salam rindu,
atau salam aja terus menggelinding tiada henti. “Ya... tak kusampaikan. Insya
Allah,” responsku fifty-fifty. Dipikir-pikir aku bapak pos apa? Enak
kirim salam gini gitu. Jika hal demikian bocor atau kepergok pengurus
KAMTIB, nasibku end di situ.
Nah, di situlah yaitu di lokasi pemanggilan kabar flashdisk-ku
dibahas. “Kalo sudah selesai, flashdisk-ku cepat dikirim,” pintaku
sampaikan maksudku pada Ade’ Naila.
* * *
Suatu hari, tak sempat aku catat hari apa, aku pulang ke rumah. Hal penting bersifat dadakan. Di saat tinggalkan pondok, teman-teman sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kepulanganku bukan tepat hari libur pondok, tapi hari aktif pesantren. Jarang santri pulang, sekalipun rindu lihat-lihat lingkungan rumah tak dapat dibohongi, kecuali ada kepentingan yang tak dapat diselesaikan di pondok. Sebut, legalisir ijazah, musyawarah dengan orang tua, dan yang lainnya.
Walau pulang terasa fun, kadang perasaan kikuk. Rasanya ada
yang kurang. Biasanya, di hari libur pondok segala obrolan; SMS, telepon, atau
Facebook sekalipun, aktif bisa jadi 24 jam, sayangnya pulang di waktu
aktif pondok sepi suasana. Mayoritas mereka fokus pada kegiatan pesantren,
dibandingkan rileks. Kalau pun ada teman pondok yang online di fb, itu
hanya sebagian kecil. Mungkin, hanya satu atau dua orang saja. Al-hasil, kurang
wonderful.
Terasa kurang betah pulang. Hasrat kembali ke pondok bertandang di
pikiran. Langkahkan kaki tak kalah kencangnya saat hendak pulang. Rumah
menjelma imajinasi. Terbayang di pikiran.
Esok hari, aku kembali ke pondok. Di sanalah muka teman-teman terlihat
mencurigakan. “Ada kiriman flashdisk ke kamu,” celetuk sebagian mereka
dengan mata menatap ke arahku.
“Tumben kirim flashdisk segala ke santri putri,” susul yang lain.
“Siapa dulu kalau bukan karena si Naila,” tambah satu yang lain jujur.
“Naila?!” pikiranku menerawang, “Lho, kok bisa sebut nama itu?!”
“Apakah mereka sudah otak atik flashdisk-ku? Dan buka foto dia di
dalamnya. Tapi... foto itu kan di-password. Yakin, mereka tidak tahu password-nya.
Selamat.” Pikiran sedikit kacau.
“Di mana flashdisk itu sekarang?” tanyaku.
“Nih,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah flashdisk persis yang aku
kirim lewat mbak Uuk ke Ade’ Naila beserta buku New Concept dan Game. Benar
itu milikku. Batinku bergumam.
Jeda sebentar usai flashdisk di tanganku, sebagian teman-teman
tunjukkan foto-foto Ade’. Aku tersentak keget. “Lho, kamu ambil di mana
foto-foto itu?” tanyaku linglung.
“Sir, klo kasih password jangan terlalu sulit,” ucapnya ogah-ogahan santai, “bobol saja mudah. Password-nya, ‘aku’ kan?”
“Buset!” desahku kesel.
“Hanya foto-foto itu, apa hubungannya denganku. Kalau perlu kamu dapatin
foto-foto itu di album fb Naila Aljazilah,” basa-basiku menghapus kekusutan
muka dan hantaman besar yang menimpaku. Jika Ade’ tahu kenyataan ini, tak dapat
terbayang apa jadinya. Hancurrr...!
Sambil tatap keheningan. Suasana sunyi seketika.
“Kok bisa ada di tangan-tangan kamu?” tanyaku dengan muka tegar ala
kadarnya.
“Gimana tidak, wong kamu pulang. Sedangkan, panggilan mencerocos di
kantor. Terpaksa teman-teman yang ngambil. Ternyata kiriman flashdisk,”
ceritanya.
“Keamanan sempat curiga. Dia tanya flashdisk ini milik Khalil atau
bukan?” timpal yang lain.
Flashdisk itu akhirnya
kembali pada pemiliknya. Bangga? Dikit. Kesel? Tentu. Aku kesel atas
kelancangan mereka. Tak ada lampu hijau (izin) berani menggeledah atau open sesuatu
milik orang lain. Kan tak sopan? Ya, semuanya sudah terjadi. Biar itu berlalu
dengan sendirinya.[]
No comments:
Post a Comment