Tuesday, June 30, 2015

Flashdisk



Tak terhitung lama flashdisk yang kukirimkan beberapa hari silam, masih dia pegang. Itu masih belum dikembalikan. Ya, dikirim lewat KAMTIB pesantren atau melalui siapa pun. Yang penting kembali dengan sempurna. Mau kirim surat, tak mood. Dirasa ganjil kirim surat pada seseorang yang baru saja akrab, apalagi tak pernah coba-coba tulis surat untuknya. Takut, terkesan sok akrab atau timbul gosip tidak sehat. Kan, tahu sendiri, teman-teman pondok amat refleks dan terlalu blak-blakan memberikan kesimpulan gelagat seseorang. Digosip, jadian sama santri putri atau apalah. Pusing dengar gojlokan tiap hari tak kunjung pudar.

Bisaku hanya kirim surat dan panggil Ulfah. Padanya minta tolong untuk kasih tahu kalau flashdisk-ku sangat dibutuhkan. Penting, karena file-file penting di-save di dalamnya. Bukan sok sibuk, tapi kadang ada tugas kampus; makalah, atau print sesuatu. Justru amat merepotkan atau sulit pinjam flashdisk milik teman, sekalipun teman sekamar, berkali-kali. Mereka akan merasa tidak enak melayani kebutuhanku. Karena, setiap flashdisk biasanya tersimpan file-file pribadi pemilik. “Takut dibuka dan tersebar ke mana pun,” pikir mereka.

Suatu hari aku sempat beli surat penggilan famili (saudara sekandung, atau sepupu) pada pengurus KAMTIB. Tapi, surat itu tak langsung legal sepenuhnya. Masih minta idzin dengan isyarat tanda tangan kiai. Surat itu diserahkan padanya di tempat biasa santri menemui beliau, yaitu dekat dapur sebelah barat kamar mandi pengurus dan tamu. Kaki gemetar dan tak kuasa berdiri di hadapannya. Denyut jantung berdetak kencang. Karisma kiai terasa menyelusup ke sekujur tubuhku. Sedikit menggigil seperti kedinginan.

Kaki mundur waktu surat dikembalikan usai ditandatangani. Ya, aku kembali ke pondok untuk meletakkan buku sebagai meja jalan buatan di tempat semula. Surat itu dilipat dan diletakkan di dalam saku atau dibiarkan berdiam di selipan kertas buku. Biar tak ketahuan teman-teman kalau aku sekarang akan kunjungi saudari di Lubri. Tuk jaga kegaduhan yang sulit diredam. Biasanya, kalau mereka tahu, order sampaikan pesan pada santri putri atau si doi tak dapat ditepis. “Salam ke ....” Kira-kira begitu ucapnya.

Sayang, rahasia diumpet-umpet, akhirnya bocor juga. Aku sudah berusaha tuk sembunyikan dari mereka. Tapi, mereka peka situasi. Jika mau manggil, yang biasanya kenakan pakaian ala kadarnya, sebelum berangkat ke lokasi pemanggilan, varian pakaian; mulai songkok[1], baju, dan sarung, begitu pula harum-haruman menghias. Bukan karena ingin ketemu si doi, tapi takut ketahuan tidak ressek[2]. Selain itu, agar orang di sekitar betah atau tidak terganggu. Bukankah Allah Maha Indah dan mencintai keindahan? Pasti, inna allaha jamiilun yuhibbul jamal. Kubaca kalimat itu yang dipajang tepat di depan asrama BPBA English.

Celotehan mereka sungguh mengusik pendengaran. Salam kenal, salam rindu, atau salam aja terus menggelinding tiada henti. “Ya... tak kusampaikan. Insya Allah,” responsku fifty-fifty. Dipikir-pikir aku bapak pos apa? Enak kirim salam gini gitu. Jika hal demikian bocor atau kepergok pengurus KAMTIB, nasibku end di situ.

Nah, di situlah yaitu di lokasi pemanggilan kabar flashdisk-ku dibahas. “Kalo sudah selesai, flashdisk-ku cepat dikirim,” pintaku sampaikan maksudku pada Ade’ Naila.

* * *

Suatu hari, tak sempat aku catat hari apa, aku pulang ke rumah. Hal penting bersifat dadakan. Di saat tinggalkan pondok, teman-teman sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kepulanganku bukan tepat hari libur pondok, tapi hari aktif pesantren. Jarang santri pulang, sekalipun rindu lihat-lihat lingkungan rumah tak dapat dibohongi, kecuali ada kepentingan yang tak dapat diselesaikan di pondok. Sebut, legalisir ijazah, musyawarah dengan orang tua, dan yang lainnya.

Walau pulang terasa fun, kadang perasaan kikuk. Rasanya ada yang kurang. Biasanya, di hari libur pondok segala obrolan; SMS, telepon, atau Facebook sekalipun, aktif bisa jadi 24 jam, sayangnya pulang di waktu aktif pondok sepi suasana. Mayoritas mereka fokus pada kegiatan pesantren, dibandingkan rileks. Kalau pun ada teman pondok yang online di fb, itu hanya sebagian kecil. Mungkin, hanya satu atau dua orang saja. Al-hasil, kurang wonderful.

Terasa kurang betah pulang. Hasrat kembali ke pondok bertandang di pikiran. Langkahkan kaki tak kalah kencangnya saat hendak pulang. Rumah menjelma imajinasi. Terbayang di pikiran.

Esok hari, aku kembali ke pondok. Di sanalah muka teman-teman terlihat mencurigakan. “Ada kiriman flashdisk ke kamu,” celetuk sebagian mereka dengan mata menatap ke arahku.

“Tumben kirim flashdisk segala ke santri putri,” susul yang lain.

“Siapa dulu kalau bukan karena si Naila,” tambah satu yang lain jujur.

“Naila?!” pikiranku menerawang, “Lho, kok bisa sebut nama itu?!

“Apakah mereka sudah otak atik flashdisk-ku? Dan buka foto dia di dalamnya. Tapi... foto itu kan di-password. Yakin, mereka tidak tahu password-nya. Selamat.” Pikiran sedikit kacau.

“Di mana flashdisk itu sekarang?” tanyaku.

“Nih,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah flashdisk persis yang aku kirim lewat mbak Uuk ke Ade’ Naila beserta buku New Concept dan Game. Benar itu milikku. Batinku bergumam.

Jeda sebentar usai flashdisk di tanganku, sebagian teman-teman tunjukkan foto-foto Ade’. Aku tersentak keget. “Lho, kamu ambil di mana foto-foto itu?” tanyaku linglung.

“Sir, klo kasih password jangan terlalu sulit,” ucapnya ogah-ogahan santai, “bobol saja mudah. Password-nya, ‘aku’ kan?”

“Buset!” desahku kesel.

“Hanya foto-foto itu, apa hubungannya denganku. Kalau perlu kamu dapatin foto-foto itu di album fb Naila Aljazilah,” basa-basiku menghapus kekusutan muka dan hantaman besar yang menimpaku. Jika Ade’ tahu kenyataan ini, tak dapat terbayang apa jadinya. Hancurrr...!

Sambil tatap keheningan. Suasana sunyi seketika.

“Kok bisa ada di tangan-tangan kamu?” tanyaku dengan muka tegar ala kadarnya.

“Gimana tidak, wong kamu pulang. Sedangkan, panggilan mencerocos di kantor. Terpaksa teman-teman yang ngambil. Ternyata kiriman flashdisk,” ceritanya.

“Keamanan sempat curiga. Dia tanya flashdisk ini milik Khalil atau bukan?” timpal yang lain.

Flashdisk itu akhirnya kembali pada pemiliknya. Bangga? Dikit. Kesel? Tentu. Aku kesel atas kelancangan mereka. Tak ada lampu hijau (izin) berani menggeledah atau open sesuatu milik orang lain. Kan tak sopan? Ya, semuanya sudah terjadi. Biar itu berlalu dengan sendirinya.[]  


[1] Songko’ (bahasa Madura): peci
[2] Ressek (bahasa Madura): enggan merawat badan.

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...