Isu
lele sebagai ikan yang lezat disandingkan dengan nasi telah saya dengar sejak
beberapa tahun silam. Saya menyimak isu itu dari teman saya. Saat larut dalam
cerita mereka, pikiran saya ambigu; berada pada posisi tengah, antara percaya
dan tidak—ilmuwan teologi mengistilahkan kemungkinan ini dengan aqal jaiz.
Beberapa
bulan silam saya beli makanan dan pilih ikan lele di sebuah warung makan pinggir
jalan Surabaya. Kepergian saya ke sana untuk menghadiri acara technical meeting lomba bahasa Inggris
di UM (Universtitas Muhammadiyah) Surabaya. Saat terjadi hiyar antara saya dan penjual, saya memandangi lele yang ber-body tak jauh berbeda dengan ikan mujair
dan ikan kaben yang sering saya makan
sejak usia kanak-kanak hingga sekarang. Hanya saja bentuk badannya yang
berbeda; ikan lele memiliki kepala yang besar dari pada badan dan ekornya.
Bentuk
danging lele telah saya telan. Rasanya tak jauh berbeda dengan ikan-ikan lain. Saya
tidak menyalahkan cerita kelezatan makan lele. Soal rasa dan selera,
masing-masing orang tidak sama. Bisa jadi saya berkesimpulan enak, bisa jadi
orang lain berkata muak. Subjektivitas sangat berperan berkenaan dengan selera.
Awal
saya puasa di PP. Tebuireng Jombang, ikan lele berjajar di lemari kaca warung
makan pinggir jalan. Melihat lele, selera saya nol. Nafsu makan lebih mendorong
saya makan soto atau bakso disertai sambal atau cabe. “Ada sotonya, Pak?” tanya
saya pada si bapak yang sedang bantu-bantu istrinya.
“Ada lah Mas. Silahkan duduk!” jawab si bapak
tandas.
Saya
tetap berdiri melongo dengan mata terbelalak melihat lele kelihatan segar hingga
sedikit menggoda nafsu. Iseng-iseng saya tanya, “Lelenya berapa, Buk?” kalau
pun saya tak jadi beli, akhirnya.
Karena
telah memutuskan beli soto jawa, saya menanggalkan beli lele. Kapan-kapan saya beli lele jika selera
bersahabat. Saat itu kepala saya berdenyut-sakit. Entahlah, faktornya apa,
saya tidak mengerti. Kalau pun demikian, saya tidak ceck up di puskesmas terdekat.
Tadi
pagi saya mengunjungi tetangga sebelah. Rumahnya berdekatan dengan rumah saya.
Yang saya temui adalah seorang lelaki seusia adik kandung saya kira-kira
berumur 14 tahun. Kesukaannya memelihara ayam. Kelamaan ngobrol tentang ayam;
mulai ayam biasa—orang Madura menyebutnya ajem
kateh—hingga ayam berkelas—jamak orang Madura menyebutnya ajem pika. Ending obrolan itu ditutup
dengan pertanyaan dengan ritme ajakan, “Mayu’
melleya?” Kalimat tanya itu muncul setelah obrolan ayam berganti tema
tentang “ikan lele.”
Kegirangan
beli lele milik tetangga pupus setelah saya ajak umi karena dia merespons sinis.
“Sapa sealadinnah? Misnaya cerita
kemarin sulitnya minta ampun, mulai dari menyembelih lelenya hingga
membersihkan kotorannya,” kata umi saya.
“Masa,
Mi?!” ketus saya sedikit kaget.
Nafsu
makan lele akhirnya berganti nafsu baca buku karya Dee—nama pena Dewi
Lestari—yaitu Madre. Dua tema yang saya baca, [1] Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan dan [2] Guruji. Di antara dua judul itu, judul pertama yang menarik yang
mengulas tentang kebencian Dee menjawab pertanyaan seorang wartawan berkenaan
dengan cinta dan Tuhan. Akhirnya, pertanyaan itu terjawab dengan bawang yang
dikupas hingga menjadi kecil. Si wartawan sadar bahwa pertanyaan tentang cinta dan
Tuhan sulit menemukan batas jawaban. Pada pragraf terakhir, Dee menulis, mereka lalu melahap semangkok acar bawang,
bercinta, sambil terus bertanya-tanya: “apa itu cinta? Apa itu Tuhan?”
Karena
tadi hari Jum’at, saya pergi ke masjid dekat rumah, Masjid Al-Huda. Selesai
shalat Jum’at dua teman saya, Fahmi dan Uut, memanggil dan mengajak saya
lihat-lihat lele milik tetangga yang saya perbincangkan sebelum shalat Jum’at tadi.
Refleks saya langsung mengiyakan.
Sampai
di sebuah rumah yang saya kenal sejak usia kecil yakni rumah Bapak Mathari,
bendungan lele tampak tak terawat. Kira-kira dari 6 bendungan lele, yang berisi
lele, hanya 1 bendungan. Ha! Saya kaget
melihat lele yang bertubuh jauh lebih besar dari lele-lele yang saya jumpai di
warung nasi. Tanpa berpikir kelamaan, saya memutuskan beli. Kemudian saya
menemui pemiliknya dan menanyakan: Lelenya
dijual, Mak?
Kata Si
Mak, kira-kira 23 lele yang besar-besar tidak untuk dijual kayak slogan not for sale. Karena yang pengin lele
itu hanya saya seorang, dia kasih 1 lele gratis.
Teman
saya menangkap lele yang gesit di sebuah bendungan yang kotor. Bendungan itu
penuh dengan air yang berwarna biru karena tercampur lumut. Satu lele telah tertangkap.
Di jalan kita bertiga bincang-bincang resep lalapan lele meliputi teori goreng
lele dan sambal lele.
Usai
disembelih, lele itu dipotong kecil-kecil. Tanpa rumit-rumit memperbicangkan
hukum fiqhnya melihat darah lele yang mengalir deras, darahnya dibersihkan dan
dagingnya digoreng. Sayangnya, lalapan lele itu tidak dijadikan pengganti kurma
saat berbuka puasa. Lele itu disantap dengan sambal ala sambal lalapan ayam
setelah shalat Tarawih di masjid An-Nur sambil berkomentar: lalapan lele tak seperti lalapan ayam; kurang
enak.[]
Congka’, 11 Juli 2015
No comments:
Post a Comment