Wednesday, July 15, 2015

Dari Lele di Warung Makan hingga Lele Milik Tetangga



Isu lele sebagai ikan yang lezat disandingkan dengan nasi telah saya dengar sejak beberapa tahun silam. Saya menyimak isu itu dari teman saya. Saat larut dalam cerita mereka, pikiran saya ambigu; berada pada posisi tengah, antara percaya dan tidak—ilmuwan teologi mengistilahkan kemungkinan ini dengan aqal jaiz.

Beberapa bulan silam saya beli makanan dan pilih ikan lele di sebuah warung makan pinggir jalan Surabaya. Kepergian saya ke sana untuk menghadiri acara technical meeting lomba bahasa Inggris di UM (Universtitas Muhammadiyah) Surabaya. Saat terjadi hiyar antara saya dan penjual, saya memandangi lele yang ber-body tak jauh berbeda dengan ikan mujair dan ikan kaben yang sering saya makan sejak usia kanak-kanak hingga sekarang. Hanya saja bentuk badannya yang berbeda; ikan lele memiliki kepala yang besar dari pada badan dan ekornya.

Bentuk danging lele telah saya telan. Rasanya tak jauh berbeda dengan ikan-ikan lain. Saya tidak menyalahkan cerita kelezatan makan lele. Soal rasa dan selera, masing-masing orang tidak sama. Bisa jadi saya berkesimpulan enak, bisa jadi orang lain berkata muak. Subjektivitas sangat berperan berkenaan dengan selera.

Awal saya puasa di PP. Tebuireng Jombang, ikan lele berjajar di lemari kaca warung makan pinggir jalan. Melihat lele, selera saya nol. Nafsu makan lebih mendorong saya makan soto atau bakso disertai sambal atau cabe. “Ada sotonya, Pak?” tanya saya pada si bapak yang sedang bantu-bantu istrinya.

“Ada lah Mas. Silahkan duduk!” jawab si bapak tandas.

Saya tetap berdiri melongo dengan mata terbelalak melihat lele kelihatan segar hingga sedikit menggoda nafsu. Iseng-iseng saya tanya, “Lelenya berapa, Buk?” kalau pun saya tak jadi beli, akhirnya.

Karena telah memutuskan beli soto jawa, saya menanggalkan beli lele. Kapan-kapan saya beli lele jika selera bersahabat. Saat itu kepala saya berdenyut-sakit. Entahlah, faktornya apa, saya tidak mengerti. Kalau pun demikian, saya tidak ceck up di puskesmas terdekat.

Tadi pagi saya mengunjungi tetangga sebelah. Rumahnya berdekatan dengan rumah saya. Yang saya temui adalah seorang lelaki seusia adik kandung saya kira-kira berumur 14 tahun. Kesukaannya memelihara ayam. Kelamaan ngobrol tentang ayam; mulai ayam biasa—orang Madura menyebutnya ajem kateh—hingga ayam berkelas—jamak orang Madura menyebutnya ajem pika. Ending obrolan itu ditutup dengan pertanyaan dengan ritme ajakan, “Mayu’ melleya?” Kalimat tanya itu muncul setelah obrolan ayam berganti tema tentang “ikan lele.”

Kegirangan beli lele milik tetangga pupus setelah saya ajak umi karena dia merespons sinis. “Sapa sealadinnah? Misnaya cerita kemarin sulitnya minta ampun, mulai dari menyembelih lelenya hingga membersihkan kotorannya,” kata umi saya.

“Masa, Mi?!” ketus saya sedikit kaget.

Nafsu makan lele akhirnya berganti nafsu baca buku karya Dee—nama pena Dewi Lestari—yaitu Madre. Dua tema yang saya baca, [1] Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan dan [2] Guruji. Di antara dua judul itu, judul pertama yang menarik yang mengulas tentang kebencian Dee menjawab pertanyaan seorang wartawan berkenaan dengan cinta dan Tuhan. Akhirnya, pertanyaan itu terjawab dengan bawang yang dikupas hingga menjadi kecil. Si wartawan sadar bahwa pertanyaan tentang cinta dan Tuhan sulit menemukan batas jawaban. Pada pragraf terakhir, Dee menulis, mereka lalu melahap semangkok acar bawang, bercinta, sambil terus bertanya-tanya: “apa itu cinta? Apa itu Tuhan?”

Karena tadi hari Jum’at, saya pergi ke masjid dekat rumah, Masjid Al-Huda. Selesai shalat Jum’at dua teman saya, Fahmi dan Uut, memanggil dan mengajak saya lihat-lihat lele milik tetangga yang saya perbincangkan sebelum shalat Jum’at tadi. Refleks saya langsung mengiyakan.

Sampai di sebuah rumah yang saya kenal sejak usia kecil yakni rumah Bapak Mathari, bendungan lele tampak tak terawat. Kira-kira dari 6 bendungan lele, yang berisi lele, hanya 1 bendungan. Ha! Saya kaget melihat lele yang bertubuh jauh lebih besar dari lele-lele yang saya jumpai di warung nasi. Tanpa berpikir kelamaan, saya memutuskan beli. Kemudian saya menemui pemiliknya dan menanyakan: Lelenya dijual, Mak?

Kata Si Mak, kira-kira 23 lele yang besar-besar tidak untuk dijual kayak slogan not for sale. Karena yang pengin lele itu hanya saya seorang, dia kasih 1 lele gratis.

Teman saya menangkap lele yang gesit di sebuah bendungan yang kotor. Bendungan itu penuh dengan air yang berwarna biru karena tercampur lumut. Satu lele telah tertangkap. Di jalan kita bertiga bincang-bincang resep lalapan lele meliputi teori goreng lele dan sambal lele.

Usai disembelih, lele itu dipotong kecil-kecil. Tanpa rumit-rumit memperbicangkan hukum fiqhnya melihat darah lele yang mengalir deras, darahnya dibersihkan dan dagingnya digoreng. Sayangnya, lalapan lele itu tidak dijadikan pengganti kurma saat berbuka puasa. Lele itu disantap dengan sambal ala sambal lalapan ayam setelah shalat Tarawih di masjid An-Nur sambil berkomentar: lalapan lele tak seperti lalapan ayam; kurang enak.[]   

Congka’, 11 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...