Wednesday, July 15, 2015

Lemper untuk Berbuka Puasa



Dalam hadits Nabi Muhammad saw dinyatakan, Ada dua kebahagiaan yang dirasakan orang yang berpuasa: [1] bahagia saat berbuka, dan [2] bahagia saat bertemu dengan Tuhannya di akhirat.

Hadits ini hinggap di telinga saat saya belajar di MA 1 Annuqayah Putra dan ikut hataman kitab Shahih Bukhari di PP. Tebuireng Jombang. Usai mendengar dan mengomentari petikan hadits, saya bermeditasi sejenak. Jadi, hati dan pikiran saya mengiyakan, bahwa kebahagiaan saat berbuka puasa memang tak sekali saya rasakan. Pun, orang lain merasakan hal yang sama. Tak ayal, jamak orang yang berpuasa tampak kegirangan waktu menjelang berbuka; aneka macam makanan dan minuman disediakan. Inginnya semua makanan disantap habis, tapi saat berbuka banyak makanan yang tersisa.

Terkadang, saya merasakan kebahagiaan itu tidak sempurna karena makanan dan minuman favorit saya tak tersedia. Biasanya, saya suka makan ketoprak, nasi lalapan, soto, bakso, lemper—makanan ringan yang berwujud seperti ponsel dan di dalamnya berisi nasi dan ikan/sambal—dll. Sedangkan, minuman favorit saya, es strup, es teh, dan atau es campur. Saya tak ingin bahas level pahala terkait aneka macam makanan dan minuman. Sebab, saya bukan waliyullah yang mampu mengindera yang tak terindera. Sudahlah, soal kualitas pahala pasrahkan pada Tuhan saja. Dialah yang Maha Tahu kualitas pahala masing-masing orang.

Hari ini saya mengimpikan lemper jadi makanan untuk berbuka. Rasanya sedap; baunya harum, apalagi diolesi sambal. Menelan 4 buah saja, perut saya kenyang. Kalau pun tanpa bakso, soto, ketoprak, dll, lemper lebih dari cukup. Tapi, umi saya melarang saya makan lemper untuk berbuka karena menjalankan perintah larangan aba. Larangan itu berawal dari keengganan saya berbuka dengan sepiring nasi putih atau nasi jagung. Berbuka puasa dengan “lemper” dan sepiring nasi bikin energi saya terkuras. Saya merasa lesu saat shalat Tarawih. Hati saya menentang.

Mengingat-ingat tentang lemper, 2 hal yang perlu kita garis bawahi: [a] Lemper merupakan makanan khas Madura. Apa pun yang menjadi khas memiliki harga yang mahal. Saya teringat dengan suara khas Fatin—juara 1 X-Factor Indonesia—yaitu suara serak-serak hingga bikin banyak orang terhanyut; dan [b] lemper merupakan kultur Madura yang wajib diapresiasi. Membuat lemper bukan hal yang gampang dan remeh, melainkan butuh pengetahuan dan perasaan. Apa pun yang dihasilkan tanpa menyertakan perasaan akan terkesan hambar dan hampa. Seakan-akan tak ada jiwa yang hidup dalam karya tersebut. Banyak lemper yang dijajankan di pasar-pasar, tapi tak semuanya itu bikin saya terhanyut dan tergoda membeli kecuali lemper karya Buk Sapik, penjual tak jauh dari rumah saya. Lempernya mampu menjadi magnet yang mampu menarik banyak pembeli hingga bikin dia tidak repot-repot memasarkan lemper-nya di pasar-pasar.
  
Makanan atau minuman untuk berbuka tak harus kurma dan air zam-zam yang sering diterapkan Nabi Muhammad saw tempo dulu. Tapi, berbuka puasa disesuaikan dengan makanan dan minuman yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Hanya saja sebagian orang ajam (non-Arab) yang menjalankan sunah beliau karena mereka mampu hunting kurma di pasar atau toko sekitar.

Saya terkadang menelan beberapa biji kurma saat berbuka puasa. Sebut, saat saya ikut kursus bahasa Inggris di Waru-Pamekasan tahun 2010 karena mendapat kesempatan buka puasa gratis; saat saya ikut hataman kitab Shahih Bukhari di PP. Tebuireng Jombang tahun 2015; kemarin waktu aba beli kurma; dan beberapa kesempatan yang lain.

Berbuka dengan kurma, bagi saya, biasa saja. Tapi, untuk puasa sekarang saya lebih suka berbuka dengan lemper yang diolesi sambal pedas. Bikin lidah bergoyang. Semoga kesempurnaan berbuka dengan lemper dapat menjadi kesempurnaan pahala puasa saya.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...