Dalam
hadits Nabi Muhammad saw dinyatakan, Ada
dua kebahagiaan yang dirasakan orang yang berpuasa: [1] bahagia saat berbuka,
dan [2] bahagia saat bertemu dengan Tuhannya di akhirat.
Hadits
ini hinggap di telinga saat saya belajar di MA 1 Annuqayah Putra dan ikut
hataman kitab Shahih Bukhari di PP.
Tebuireng Jombang. Usai mendengar dan mengomentari petikan hadits, saya bermeditasi
sejenak. Jadi, hati dan pikiran saya mengiyakan, bahwa kebahagiaan saat berbuka
puasa memang tak sekali saya rasakan. Pun, orang lain merasakan hal yang sama. Tak
ayal, jamak orang yang berpuasa tampak kegirangan waktu menjelang berbuka;
aneka macam makanan dan minuman disediakan. Inginnya semua makanan disantap
habis, tapi saat berbuka banyak makanan yang tersisa.
Terkadang,
saya merasakan kebahagiaan itu tidak sempurna karena makanan dan minuman
favorit saya tak tersedia. Biasanya, saya suka makan ketoprak, nasi lalapan,
soto, bakso, lemper—makanan ringan
yang berwujud seperti ponsel dan di dalamnya berisi nasi dan ikan/sambal—dll.
Sedangkan, minuman favorit saya, es strup, es teh, dan atau es campur. Saya tak
ingin bahas level pahala terkait aneka macam makanan dan minuman. Sebab, saya
bukan waliyullah yang mampu mengindera yang tak terindera. Sudahlah, soal
kualitas pahala pasrahkan pada Tuhan saja. Dialah yang Maha Tahu kualitas
pahala masing-masing orang.
Hari
ini saya mengimpikan lemper jadi
makanan untuk berbuka. Rasanya sedap; baunya harum, apalagi diolesi sambal. Menelan
4 buah saja, perut saya kenyang. Kalau pun tanpa bakso, soto, ketoprak, dll, lemper lebih dari cukup. Tapi, umi saya
melarang saya makan lemper untuk
berbuka karena menjalankan perintah larangan aba. Larangan itu berawal dari
keengganan saya berbuka dengan sepiring nasi putih atau nasi jagung. Berbuka puasa dengan “lemper” dan sepiring
nasi bikin energi saya terkuras. Saya merasa lesu saat shalat Tarawih. Hati
saya menentang.
Mengingat-ingat
tentang lemper, 2 hal yang perlu kita
garis bawahi: [a] Lemper merupakan
makanan khas Madura. Apa pun yang menjadi khas memiliki harga yang mahal. Saya
teringat dengan suara khas Fatin—juara 1 X-Factor Indonesia—yaitu suara
serak-serak hingga bikin banyak orang terhanyut; dan [b] lemper merupakan kultur Madura yang wajib diapresiasi. Membuat lemper bukan hal yang gampang dan remeh,
melainkan butuh pengetahuan dan perasaan. Apa pun yang dihasilkan tanpa
menyertakan perasaan akan terkesan hambar dan hampa. Seakan-akan tak ada jiwa
yang hidup dalam karya tersebut. Banyak lemper
yang dijajankan di pasar-pasar, tapi tak semuanya itu bikin saya terhanyut
dan tergoda membeli kecuali lemper karya
Buk Sapik, penjual tak jauh dari rumah saya. Lempernya mampu menjadi magnet
yang mampu menarik banyak pembeli hingga bikin dia tidak repot-repot memasarkan
lemper-nya di pasar-pasar.
Makanan
atau minuman untuk berbuka tak harus kurma dan air zam-zam yang sering diterapkan
Nabi Muhammad saw tempo dulu. Tapi, berbuka puasa disesuaikan dengan makanan
dan minuman yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Hanya saja sebagian
orang ajam (non-Arab) yang menjalankan sunah beliau karena mereka mampu hunting kurma di pasar atau toko
sekitar.
Saya
terkadang menelan beberapa biji kurma saat berbuka puasa. Sebut, saat saya ikut
kursus bahasa Inggris di Waru-Pamekasan tahun 2010 karena mendapat kesempatan
buka puasa gratis; saat saya ikut hataman kitab Shahih Bukhari di PP. Tebuireng Jombang tahun 2015; kemarin waktu aba
beli kurma; dan beberapa kesempatan yang lain.
Berbuka
dengan kurma, bagi saya, biasa saja. Tapi, untuk puasa sekarang saya lebih suka
berbuka dengan lemper yang diolesi
sambal pedas. Bikin lidah bergoyang. Semoga kesempurnaan berbuka dengan lemper dapat menjadi kesempurnaan pahala
puasa saya.[]
No comments:
Post a Comment