Wednesday, July 15, 2015

Mas Iskandar dan Shalat Tahajud



Iskandar. Begitulah saya menyebutnya. Dialah teman, sekaligus rival saya. Disebut teman, karena saya sudah lama kenal baik dengan dia dan dalam beberapa momen (even perlombaan) kami berkumpul dalam satu mobil dan satu kamar. Saya sebut rival, karena saya terlalu iri atas kerajinan dan keistikamahannya dalam shalat Tahajud di masjid Jami’ Annuqayah, kalau pun dia sendiri mondok di daerah lain yaitu PP. Annuqayah daerah Latee (sekarang diasuh oleh KH. Ahmad Basyir AS).

Walau saya menjadwal dan tanamkan niat sebelum tidur disertai doa dan bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an bahwa, saya akan bangun nanti pada jam 02:00, terkadang saya bangun terlambat seperti bangun pada jam 02:45, 03:00, atau 03:50. Saya cepat-cepat beranjak dari tempat timur saat sadar dan melihat jarum jam beker menunjuk pada angka pilihan tersebut. Sadar, waktu shalat Tahajud hampir kandas. Perasaan khawatir bergejolak tak menentu. Khawatir, tidak kebagian kesempatan bermunajat dan curhat dengan Tuhan di malam yang penuh dengan barakah, kalau pun disebutkan dalam hadits Nabi saw bahwa, seseorang yang sebelum tidur berniat bangun malam (shalat Tahajud), tapi tidur mengalahkan niatnya, maka dia dinilai seperti orang yang bangun di waktu malam.

Iskandar sering berada di masjid itu saat atau kira-kira jam 03:00. Jika saya bangun tepat waktu, saya tidak berjumpa dengannya. Namun, jika saya bangun terlambat, saya melihatnya sedang dalam keadaan berdiri shalat atau duduk berzikir. Saat mata melihatnya, hati jadi iri. Seolah-olah saya kalah dalam perlombaan mengingat pesan Tuhan dalam Al-Qur’an, fastabiq al-khairat (maka berlomba-lombalah dalam kebaikan).

Anda tahu bahwa, tak selamanya iri dilarang. Iri, dalam hadits, dapat menghapus amal baik pelakunya seperti kayu bakar yang hangus menjadi arang dan abu karena api yang membakarnya. Saya faham maksud hadits: iri yang dinilai negatif jika irinya bukan untuk kebaikan seperti menginginkan harta orang lain lenyap, nyawa orang lain melayang, dll.

Sejak kanak-kanak dulu, aba pernah menyampaikan dalam rutinitas belajar kitab kuning di rumah tempo dulu. “Iri dalam keilmuan (misal, kita ingin pintar karena orang lain pintar), menurut Imam Syafi’ie, boleh-boleh saja,” jelas aba tandas.

Mengingat petuah beliau, saya dapat memberikan konklusi bahwa, iri menjadi seperti Iskandar yang rajin dan istikamah shalat Tahajud, dikira penting. Sehingga hukumnya, “boleh-boleh saja.” Apalagi, irinya saya tidak untuk mengganggu ketenangan dia, tapi dia dapat memotivasi saya.

Terima kasih, Mas Iskandar.[]

Gubuk Bahasa Inggris, 06 Februari 2015  

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...