Iskandar.
Begitulah saya menyebutnya. Dialah teman, sekaligus rival saya. Disebut teman,
karena saya sudah lama kenal baik dengan dia dan dalam beberapa momen (even
perlombaan) kami berkumpul dalam satu mobil dan satu kamar. Saya sebut rival,
karena saya terlalu iri atas kerajinan dan keistikamahannya dalam shalat
Tahajud di masjid Jami’ Annuqayah, kalau pun dia sendiri mondok di daerah lain
yaitu PP. Annuqayah daerah Latee (sekarang diasuh oleh KH. Ahmad Basyir AS).
Walau
saya menjadwal dan tanamkan niat sebelum tidur disertai doa dan bacaan-bacaan
ayat Al-Qur’an bahwa, saya akan bangun nanti pada jam 02:00, terkadang saya
bangun terlambat seperti bangun pada jam 02:45, 03:00, atau 03:50. Saya
cepat-cepat beranjak dari tempat timur saat sadar dan melihat jarum jam beker
menunjuk pada angka pilihan tersebut. Sadar, waktu shalat Tahajud hampir
kandas. Perasaan khawatir bergejolak tak menentu. Khawatir, tidak kebagian
kesempatan bermunajat dan curhat dengan Tuhan di malam yang penuh dengan
barakah, kalau pun disebutkan dalam hadits Nabi saw bahwa, seseorang yang
sebelum tidur berniat bangun malam (shalat Tahajud), tapi tidur mengalahkan
niatnya, maka dia dinilai seperti orang yang bangun di waktu malam.
Iskandar
sering berada di masjid itu saat atau kira-kira jam 03:00. Jika saya bangun
tepat waktu, saya tidak berjumpa dengannya. Namun, jika saya bangun terlambat,
saya melihatnya sedang dalam keadaan berdiri shalat atau duduk berzikir. Saat
mata melihatnya, hati jadi iri. Seolah-olah saya kalah dalam perlombaan
mengingat pesan Tuhan dalam Al-Qur’an, fastabiq
al-khairat (maka berlomba-lombalah dalam kebaikan).
Anda
tahu bahwa, tak selamanya iri dilarang. Iri, dalam hadits, dapat menghapus amal
baik pelakunya seperti kayu bakar yang hangus menjadi arang dan abu karena api
yang membakarnya. Saya faham maksud hadits: iri yang dinilai negatif jika
irinya bukan untuk kebaikan seperti menginginkan harta orang lain lenyap, nyawa
orang lain melayang, dll.
Sejak
kanak-kanak dulu, aba pernah menyampaikan dalam rutinitas belajar kitab kuning di
rumah tempo dulu. “Iri dalam keilmuan (misal, kita ingin pintar karena orang
lain pintar), menurut Imam Syafi’ie, boleh-boleh saja,” jelas aba tandas.
Mengingat
petuah beliau, saya dapat memberikan konklusi bahwa, iri menjadi seperti
Iskandar yang rajin dan istikamah shalat Tahajud, dikira penting. Sehingga
hukumnya, “boleh-boleh saja.” Apalagi, irinya saya tidak untuk mengganggu
ketenangan dia, tapi dia dapat memotivasi saya.
Terima
kasih, Mas Iskandar.[]
Gubuk Bahasa Inggris, 06 Februari 2015
No comments:
Post a Comment