Wednesday, July 15, 2015

Menjelang Ngaji Al-Qur’an ke Pengasuh



Masuk waktu shalat Asyar, saya bergegas menuju Masjid Jami’ Annuqayah guna menghadiri tes ngaji Al-Qur’an ke K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa, yang diampuh Kiai Wafi Nuh selama setahun lebih. Saya tidak tahu bentuk agenda atau tema yang akan dibahas pada acara itu. Dugaan saya, acara itu tak jauh membahas tentang setting ngaji nanti ke pengasuh.  

Usai shalat jamaah Ashar di masjid Jami’ Annuqayah yang dipimpin Kiai Fikri—panggilan K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I—saya langsung menuju masjid bagian dalam. Tanpa terasa teman-teman berdiri isyarat penghormatan ala PP. Annuqayah—kepala menunduk di samping yang dihormat. Kedua telapak tangan diteletakkan di atas perut sembari diam—sedangkan otak saya bertanya-tanya. Kiai Fikri? Faktanya, beliau tak kelihatan di sekitar masjid alias sudah kembali ke kediamannya. Kiai Wafi? Rasanya, tak kelihatan juga jejaknya.
Empeyan edhukani Kiai Wafi,” celetuk santri yang sedang bergegas menuju ke luar masjid usai shalat.

Saya hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Tapi, di mana beliau? Pikiran saya bertanya-tanya.

“Hah!” Saya kaget sembari bola mata membelalak. Beliau tiba-tiba berdiri dekat pintu masjid belakang bagian selatan.

Saya menghampiri, berucap salam, dan mengambil tangan beliau (berjabat tangan).

“Yang lain mana?” tanya Kiai Wafi.

Mangken dimen. Abdina aperenga oneng,” jawab saya dengan muka agak menunduk. Saya terbata-bata berbahasa Madura halus. Kalau pun saya orang Madura, tata bahasa Madura saya dibilang minim.

Beliau mengizinkan. Saya bergegas menuju kantor pesantren dan bilik-bilik santri untuk memberikan informasi.

***

Sembilan santri yang telah dinyatakan lulus dengan rangking yang berbeda berbondong-bondong, bersalaman sambil mencium tangan Kiai Wafi, dan duduk bersila. Melihat hasil surat keputusan pelulusan kemarin, yang lulus tercatat 10 orang: 1 orang, Jazuli, pulang.

Beberapa detik kemudian beliau membuka acara. Dinyatakan bahwa 9 peserta, termasuk saya, dikumpulkan, tak lain guna menyampaikan cara santri ngaji Al-Qur’an ke pengasuh. Beberapa hal yang beliau sampaikan meliputi: Pertama, penentuan nilai berdasarkan hasil tes seleksi kemarin. Saya dikasih nilai 6,5 (enam koma lima). Saya merasa puas dengan nilai sebesar itu. Sebab, yang terpenting ketelatenan, keseriusan, dan kesabaran selama mengaji Al-Qur’an kepada Pengasuh nanti. Sehingga, target yakni memperoleh barakah dan finis, tercapai.

Kedua, urutan peserta disesuaikan dengan rangking yang terdata. Dimulai dari ranking pertama, kedua, hingga rangking kesepuluh. Saya termasuk rangking keempat. Jadi, saya tepat pada urutan ke-4.

Ketiga, diceritakan kelebihan kitab suci Al-Qur’an disejajarkan dengan kitab-kitab yang lain. Saya sadar bahwa pembudayaan bacaan Al-Qur’an dalam kehidupan manusia dikira sangat penting demi membantu ketenangan mereka dalam menjalani roda kehidupan yang penuh dengan teka-teki. “Tak ada teman yang paling baik di dunia ini, selain Al-Qur’an. Bacalah! Fahami!” tutur beliau.

Keempat, cerita beliau yang disitir dari statemen Kiai Warits yakni “santri yang diizinkan ngaji Al-Qur’an kepada pengasuh wajib membangunkan santri di waktu subuh dan mengikuti hadiran/jamaah shalat Subuh. Santri yang tidak mengikuti hadiran, tidak boleh mengaji.”

***

Tak terasa lama kita duduk. Acara berakhir. Selanjutnya, menunggu keputusan pengasuh, Kiai Muhammad Ali Fikri, waktu dimulai ngaji.[]

Guluk-Guluk, 22 Agustus 2014

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...