Masuk waktu shalat Asyar, saya bergegas menuju Masjid Jami’ Annuqayah guna menghadiri tes ngaji
Al-Qur’an ke K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I,
pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa, yang diampuh Kiai Wafi
Nuh selama setahun lebih. Saya tidak tahu bentuk
agenda atau tema yang akan dibahas pada
acara itu. Dugaan saya, acara itu tak jauh membahas tentang
setting ngaji nanti ke pengasuh.
Usai shalat jamaah Ashar di masjid Jami’ Annuqayah yang
dipimpin Kiai Fikri—panggilan K. Muhammad Ali Fikri,
M.Pd.I—saya langsung menuju masjid bagian
dalam. Tanpa terasa teman-teman berdiri isyarat penghormatan ala PP. Annuqayah—kepala menunduk di samping yang dihormat. Kedua telapak
tangan diteletakkan di atas perut sembari diam—sedangkan
otak saya bertanya-tanya. Kiai Fikri? Faktanya, beliau tak kelihatan di sekitar masjid alias
sudah kembali ke kediamannya. Kiai Wafi?
Rasanya, tak kelihatan juga jejaknya.
“Empeyan edhukani Kiai Wafi,”
celetuk santri yang
sedang bergegas menuju ke luar masjid usai shalat.
Saya hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Tapi, di mana beliau? Pikiran saya
bertanya-tanya.
“Hah!” Saya kaget sembari bola mata membelalak.
Beliau tiba-tiba berdiri dekat pintu masjid belakang bagian selatan.
Saya menghampiri, berucap salam, dan
mengambil tangan beliau (berjabat tangan).
“Yang lain mana?” tanya Kiai Wafi.
“Mangken dimen. Abdina aperenga oneng,” jawab saya
dengan muka agak menunduk. Saya terbata-bata berbahasa Madura
halus. Kalau pun saya orang Madura, tata bahasa Madura saya dibilang minim.
Beliau mengizinkan. Saya bergegas menuju kantor pesantren dan
bilik-bilik santri
untuk memberikan informasi.
***
Sembilan santri yang telah dinyatakan lulus dengan rangking
yang berbeda berbondong-bondong, bersalaman sambil
mencium tangan Kiai Wafi, dan duduk bersila. Melihat hasil surat keputusan pelulusan kemarin, yang lulus tercatat 10 orang: 1 orang,
Jazuli, pulang.
Beberapa detik kemudian beliau membuka acara. Dinyatakan
bahwa 9 peserta,
termasuk saya, dikumpulkan, tak lain guna menyampaikan cara santri ngaji
Al-Qur’an ke pengasuh. Beberapa hal yang beliau sampaikan
meliputi: Pertama, penentuan
nilai berdasarkan hasil tes seleksi kemarin. Saya dikasih nilai 6,5 (enam koma lima). Saya merasa puas dengan nilai sebesar itu. Sebab, yang terpenting
ketelatenan, keseriusan, dan kesabaran selama mengaji Al-Qur’an kepada Pengasuh
nanti. Sehingga, target yakni memperoleh barakah dan finis, tercapai.
Kedua,
urutan peserta
disesuaikan dengan rangking yang terdata. Dimulai dari ranking pertama, kedua,
hingga rangking kesepuluh. Saya termasuk rangking keempat. Jadi, saya tepat
pada urutan ke-4.
Ketiga, diceritakan kelebihan kitab suci Al-Qur’an disejajarkan dengan kitab-kitab yang lain. Saya sadar bahwa pembudayaan bacaan Al-Qur’an dalam kehidupan manusia dikira sangat penting demi membantu ketenangan mereka dalam menjalani roda
kehidupan yang penuh dengan teka-teki. “Tak ada teman yang
paling baik di dunia ini, selain Al-Qur’an. Bacalah! Fahami!” tutur beliau.
Keempat, cerita beliau yang disitir
dari statemen Kiai Warits yakni “santri yang diizinkan ngaji Al-Qur’an kepada
pengasuh wajib membangunkan santri di waktu subuh dan mengikuti hadiran/jamaah
shalat Subuh. Santri yang tidak mengikuti hadiran, tidak boleh mengaji.”
***
Tak terasa lama kita duduk. Acara berakhir.
Selanjutnya, menunggu keputusan pengasuh, Kiai Muhammad Ali Fikri, waktu dimulai ngaji.[]
Guluk-Guluk, 22 Agustus 2014
No comments:
Post a Comment