Kemarin cerita duka menimpa saya dan
banyak orang. Saya petik cerita itu dari peristiwa yang sampai menyayat hati
saya. Dua peristiwa yang saya tahu.
[1] Keberangkatan adik kandung saya, Moh.
Ramdhan, ke pondok pesantren terdengar banyak orang di kampung saya, Congka’.
Antusias mereka tidak hanya disimbolkan dengan doa, “Semoga kerasan di
pondok!”/“sukses!” dsb; dan bekal uang yang disodorkan seraya berucap lirih, “Ambil
saja buat beli jajan. Semoga berakah!” melainkan juga ditunjukkan dengan keikutsertaan
mereka mengantar ke pondok disertai nyabis atau sowan kepada Kiai
Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa.
Kira-kira 4 mobil kol dan 1 mobil pick
up yang digunakan sebagai alat transportasi. Selesai adik saya dipasrahkan
kepada Kiai, 4 mobil pulang duluan kecuali 1 mobil yang ditumpangi keluarga dan
famili saya. Bayangan kita, keberangkatan hingga pulang beritme positif,
selamat atau tanpa rintangan selama di perjalanan. Tapi, otak kita tak mampu
membaca kehendak Allah swt. 1 mobil kol yang melaju dengan kecepatan stabil dan
melewati jalan pinggir kiri ditabrak sepeda motor hingga si pengendara sepeda
patah tulang.
Tragisnya, kunci mobil diambil secara
tiba-tiba oleh penduduk dekat jalan kecelakaan dan si sopir dibawa ke kantor
polisi untuk dimintapertanggungjawabannya. Memang sudah menjadi hukum pasti menurut
kepolisian, bahwa kendaraan yang ber-body besar yang diputuskan bersalah,
kendati ia berada dalam kebenaran.
Setelah famili dan orang tua saya kontak pakai
ponsel, keputusan mobil yang ditumpangi tetangga-tetangga saya mendapat denda
sebesar 1.300.000,- dari pihak kepolisian setempat. Ha! Batin saya
kaget. Tebusan sebanyak itu tak dapat ditambal dengan ongkos yang didapat berdasarkan
rute Ambuten s/d PP. Annuqayah lalu dari PP. Annuqayah s/d Ambunten, yaitu
kira-kira 200 ribu.
Dan, [2] teman saya, Taufiq, tidak nongol
di pondok sampai kemarin malam (26/7), padahal batas akhir kembali pondok selama
liburan Ramadhan adalah jam 12 malam. Banyak teman-temannya—baik teman kamar maupun
teman organisasi—tanya dia sana-sini. Saya juga ditanya, tapi saya jawab,
“Tidak tahu. Saya juga menunggu.”
Esok hari teman saya yang lain ngasih
kabar bahwa Taufiq sedang punya musibah; orang tuanya dirampok saat
mengendarahi sepeda motor pulang dari Sumenep. Uang sebanyak 1 juta lebih dan
ponselnya diambil perampok. Tragisnya, bapak dan ibunya terjatuh dari sepeda
motor. Badan bapaknya luka parah. Bisa jadi perampok itu menghadang dan atau
mendorong mereka.
Dua musibah di atas terjadi tanpa dinyana
sebelumnya. Semuanya terjadi atas skenario Tuhan. Kekuatan akal tak mampu
memprediksi. Tak ayal, jamak orang yang berbuat benar dan berniat positif,
sayang orang lain yang bikin gara-gara. Tapi, “berhati-hati” tetap menjadi
komitmen dalam berbuat. Sebab kehati-hatian, dampak negatifnya tak terlalu
parah dan mayoritas berdampak positif.
Mendengar peristiwa histeris tersebut,
hati saya menjadi jinak saat dari tadi meledak-ledak dan meletup-letup; mau ini
dan itu. Saya merenungkan peristiwa yang tak terindera ini. Sehingga firman-Nya
tiba-tiba terngiang-ngiang dalam pikir: …lain syakartum la azidannakum
walain kafartum inna adzabi la syadid… (jika kamu mensyukuri (nikmat-Ku)
niscaya kutambah (nikmat-Ku) padamu. Sebaliknya, jika kamu kufur akan
(nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih).
Di atas meditasi sekejap saya sadar diri
saya masih lalai mensyukuri setiap nikmat-Nya: kesehatan fisik, ekonomi yang
semakin membaik dari hari ke hari, dll. Sering saya merasa setiap yang
diperoleh tampak hasil kerja saya saja, padahal secara hakikatnya semua itu
atas pertolongan Allah swt. Betapa kufurnya diri saya ini ya Allah!
Saya ingin mengajak diri saya dan Anda
untuk selalu bersyukur—baik secara lisan maupun perbuatan—sebelum musibah tiba
dan merenggut yang kita senangi. Sebab, tak ada yang abadi—menyunting lagu
Paterpan—hanya Allah swt yang Maha Abadi.[]
Lubangsa, 27 Juli 2015
No comments:
Post a Comment