Sunday, September 27, 2015

Tafakur di atas Musibah



Kemarin cerita duka menimpa saya dan banyak orang. Saya petik cerita itu dari peristiwa yang sampai menyayat hati saya. Dua peristiwa yang saya tahu.

[1] Keberangkatan adik kandung saya, Moh. Ramdhan, ke pondok pesantren terdengar banyak orang di kampung saya, Congka’. Antusias mereka tidak hanya disimbolkan dengan doa, “Semoga kerasan di pondok!”/“sukses!” dsb; dan bekal uang yang disodorkan seraya berucap lirih, “Ambil saja buat beli jajan. Semoga berakah!” melainkan juga ditunjukkan dengan keikutsertaan mereka mengantar ke pondok disertai nyabis atau sowan kepada Kiai Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa.

Kira-kira 4 mobil kol dan 1 mobil pick up yang digunakan sebagai alat transportasi. Selesai adik saya dipasrahkan kepada Kiai, 4 mobil pulang duluan kecuali 1 mobil yang ditumpangi keluarga dan famili saya. Bayangan kita, keberangkatan hingga pulang beritme positif, selamat atau tanpa rintangan selama di perjalanan. Tapi, otak kita tak mampu membaca kehendak Allah swt. 1 mobil kol yang melaju dengan kecepatan stabil dan melewati jalan pinggir kiri ditabrak sepeda motor hingga si pengendara sepeda patah tulang.

Tragisnya, kunci mobil diambil secara tiba-tiba oleh penduduk dekat jalan kecelakaan dan si sopir dibawa ke kantor polisi untuk dimintapertanggungjawabannya. Memang sudah menjadi hukum pasti menurut kepolisian, bahwa kendaraan yang ber-body besar yang diputuskan bersalah, kendati ia berada dalam kebenaran.

Setelah famili dan orang tua saya kontak pakai ponsel, keputusan mobil yang ditumpangi tetangga-tetangga saya mendapat denda sebesar 1.300.000,- dari pihak kepolisian setempat. Ha! Batin saya kaget. Tebusan sebanyak itu tak dapat ditambal dengan ongkos yang didapat berdasarkan rute Ambuten s/d PP. Annuqayah lalu dari PP. Annuqayah s/d Ambunten, yaitu kira-kira 200 ribu.

Dan, [2] teman saya, Taufiq, tidak nongol di pondok sampai kemarin malam (26/7), padahal batas akhir kembali pondok selama liburan Ramadhan adalah jam 12 malam. Banyak teman-temannya—baik teman kamar maupun teman organisasi—tanya dia sana-sini. Saya juga ditanya, tapi saya jawab, “Tidak tahu. Saya juga menunggu.”

Esok hari teman saya yang lain ngasih kabar bahwa Taufiq sedang punya musibah; orang tuanya dirampok saat mengendarahi sepeda motor pulang dari Sumenep. Uang sebanyak 1 juta lebih dan ponselnya diambil perampok. Tragisnya, bapak dan ibunya terjatuh dari sepeda motor. Badan bapaknya luka parah. Bisa jadi perampok itu menghadang dan atau mendorong mereka.

Dua musibah di atas terjadi tanpa dinyana sebelumnya. Semuanya terjadi atas skenario Tuhan. Kekuatan akal tak mampu memprediksi. Tak ayal, jamak orang yang berbuat benar dan berniat positif, sayang orang lain yang bikin gara-gara. Tapi, “berhati-hati” tetap menjadi komitmen dalam berbuat. Sebab kehati-hatian, dampak negatifnya tak terlalu parah dan mayoritas berdampak positif.

Mendengar peristiwa histeris tersebut, hati saya menjadi jinak saat dari tadi meledak-ledak dan meletup-letup; mau ini dan itu. Saya merenungkan peristiwa yang tak terindera ini. Sehingga firman-Nya tiba-tiba terngiang-ngiang dalam pikir: …lain syakartum la azidannakum walain kafartum inna adzabi la syadid… (jika kamu mensyukuri (nikmat-Ku) niscaya kutambah (nikmat-Ku) padamu. Sebaliknya, jika kamu kufur akan (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih).

Di atas meditasi sekejap saya sadar diri saya masih lalai mensyukuri setiap nikmat-Nya: kesehatan fisik, ekonomi yang semakin membaik dari hari ke hari, dll. Sering saya merasa setiap yang diperoleh tampak hasil kerja saya saja, padahal secara hakikatnya semua itu atas pertolongan Allah swt. Betapa kufurnya diri saya ini ya Allah!

Saya ingin mengajak diri saya dan Anda untuk selalu bersyukur—baik secara lisan maupun perbuatan—sebelum musibah tiba dan merenggut yang kita senangi. Sebab, tak ada yang abadi—menyunting lagu Paterpan—hanya Allah swt yang Maha Abadi.[]

Lubangsa, 27 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...