Sunday, September 27, 2015

Tekanan Darah Sampean Normal-Normal Saja



Saat saya ngobrol-ngobrol di base camp guru Madrasah Diniyah PP. Annuqayah daerah Lubangsa, seorang staf madrasah—namanya Pak Wildan—tanya apakah saya pernah check-up kesehatan di rumah sakit/puskesmas. Saya tertegun; pikiran berputar. Melayang. Dan, ingat di liburan bulan Ramadhan tahun 2015 kemarin saya iseng-iseng check up tekanan darah saat mengantarkan Umi ke dokter dekat rumah saya. Dokter bilang darah saya normal-normal saja. Saya bersyukur Tuhan masih memberikan kesehatan.

Dia menyarankan saya periksa kesehatan (medical check-up) karena prihatin melihat kondisi badan saya yang tampak kurus seakan-akan mengidap penyakit. Entahlah, hasil pemeriksaan ini menyimpulkan badan saya sehat-sehat saja, saya bersuyukur, sebaliknya jika hasilnya nanti kesehatan saya terganggu atau mengidap penyakit, sebelum terlambat dapat terobati. Sebuah adagium: Mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Perkataannya telah menghipnotis alam bawah sadar saya; saya telepon Aba atau Umi sekedar izin pulang pondok. Akhirnya, Aba mengizinkan. Dan, tadi malam (27/8) saya bareng Umi pergi ke rumah Pak Muhbi—biasa orang menyebutnya—dokter yang tinggal di kecamatan Ambunten. Ditanya apanya yang sakit, saya dan Umi menjawab saya hanya ingin periksa kesehatan. Titik.

Saya dipersilahkan berbaring di atas kasur empuk rumah sakit; tekanan darah dicek dan lain-lain. “Tekanan darah sampean normal-normal saja,” jelas Pak Muhbi, “hanya saja darahnya kotor.” Andai saja sopeda motor, olinya kotor sehingga berakibat ketidakstabilan bagian-bagian sepeda bekerja. Kira-kira seperti itu.

Saya ditawarkan suntik atau konsumsi obat-obatan. Dirasa konsumsi obat-obatan lebih baik, kami—saya dan Umi—memutuskan “iya”. Di antara obat-obatan yang tersedia meliputi: [a] Royal Jelly yang berguna meregenerasi sel rusak; mengurangi gejala penyakit degeneratif; mempercepat pemulihan penyakit; mencegah dan mengurangi tanda-tanda penuaan dini dan kerusakan pada kulit; memperbaiki kolagen dan meningkatkan elastisitas kulit; menambah kesuburan pria dan wanita, menyeimbangkan hormon, mengatasi masalah haid, PMS, nyeri haid, haid tidak teratur, sulit punya keturunan; mengurangi gejala menopause; memperbaiki sistem syaraf, mengatasi insomnia, migraine, vertigo, stress dan depresi, stroke, parkinson, epilepsy; [b] Bee Propolis yang berfungsi menghilangkan radikal bebas; mencegah dan mengatasi tumor dan kanker; mengatasi penyakit akibat bakteri, virus dan jamur; mengurangi radang dan rasa nyeri; melarutkan plak pembuluh darah, kristal asam urat, dan batu ginjal; meningkatkan imunitas serta mencegah dan mengurangi gejala alergi; dan [c] Bee Pollens yang bermanfaat Chewable Pollen untuk anak-anak; menormalkan nafsu makan pada anak; memperlancar peredaran darah; meningkatkan kualitas darah dan menambah daya ikat oksigen hingga 25%; memperbaiki fungsi organ tubuh; meningkatkan stamina dan imunitas;  meningkatkan konsenstrasi, kemampuan analisis dan daya tangkap; mengatasi masalah perkembangan dan mental pada anak-anak.

Cukup jelas keterangan obat-obatan yang ditawarkan. Ditanya harganya—saya sudah lupa spesifikasi harga per-botol—ada yang satu botol seharga lima ratus ribu, ada seharga seratus ribu lebih, dsb. Bisa beli sebagian? Umi saya tanya. Si dokter jawab “boleh”. Dugaan saya, si dokter ngira harga tiga macam obat-obatan itu sangat mahal, sebotol kapsul Dynamic 3 ditawarkan kemudian. Dijelaskan, kapsul ini mencakup tiga macam obat-obatan di atas. Harganya lumayan terjangkau. “Saya rutin mengomsumsi kapsul ini,” tambahnya semakin menguatkan keyakinan saya.

Selain dibantu si dokter yang menjelaskan, saya dipersilahkan membaca manfaat kapsul ini melalui keterangan tertulis. “Dynamic 3 bermanfaat meningkatkan imunitas; meningkatkan vitalitas dan stamina; meningkatkan konsentrasi dan memori; mengurangi stress dan depresi; mengandung antrioksidan sebagai antri kanker dan menetralkan radikal bebas; menjaga kulit awet muda; nutrisi lengkap, mengandung royal jelly, propolis dan pollen.”

Saya bersyukur kondisi tubuh saya tak terlalu parah. Dokter dekat rumah masih bisa mengatasi. Dan baru saya ingat saya check-up kesehatan telah dua kali: kemarin menjelang Hari Raya Idul Fitri dan sekarang.

Masih saya mengingat petuah Kiai Fikri pada acara ORDIK Kampus INSTIKA di Masjid Jamik Annuqayah tentang kesehatan: “Menjaga kesehatan adalah termasuk dari mensyukuri nikmat Allah swt.” Maka, Az-Zarnuji menyebut dalam kitab Ta’lim Mutaallim tentang pentingnya belajar ilmu kedokteran. Sekalipun tidak fardu ain belajar/mengetahuinya, setidak-tidaknya kita bisa merawat tubuh kita sendiri, itu sudah cukup.

Sehat menjadi penting karena kesehatan tubuh sangat mempengaruhi terhadap segala aktivitas, baik aktivitas berfikir maupun aktivitas bekerja. Aktivitas berjalan stabil dan mendapatkan hasil mendekati maksimal selalu digantungkan pada kesehatan tubuh. Banyak orang cuti ngantor, mogok kerja, menunda baca buku, tidak rutin menulis, dsb karena sedang sakit. “Betapa mahalnya sehat!” Mulut saya berdesis takjub.

Kesehatan tak dapat ditukar/dibeli dengan limpahan uang. Sehat adalah rezeki Tuhan yang sering tak disadari makhluk-Nya sehingga mereka nekad kufur/jarang bersyukur. Mujur Tuhan kita Maha Penyayang; setiap kejanggalan, sikap sombong, kufur, dll, masih dimaafkan.

Semoga ikhtiar saya ini menjadi salah satu ungkapan rasa syukur saya dan mengingat-Nya lebih dekat! Dan, yang saya perbuat membuahkan hasil positif! Amin.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...