Saat saya ngobrol-ngobrol di base camp guru Madrasah Diniyah PP. Annuqayah daerah Lubangsa, seorang staf madrasah—namanya Pak Wildan—tanya apakah saya pernah check-up kesehatan di rumah sakit/puskesmas. Saya tertegun; pikiran berputar. Melayang. Dan, ingat di liburan bulan Ramadhan tahun 2015 kemarin saya iseng-iseng check up tekanan darah saat mengantarkan Umi ke dokter dekat rumah saya. Dokter bilang darah saya normal-normal saja. Saya bersyukur Tuhan masih memberikan kesehatan.
Dia menyarankan saya periksa kesehatan (medical check-up) karena prihatin melihat kondisi badan saya yang
tampak kurus seakan-akan mengidap penyakit. Entahlah, hasil pemeriksaan ini
menyimpulkan badan saya sehat-sehat saja, saya bersuyukur, sebaliknya jika
hasilnya nanti kesehatan saya terganggu atau mengidap penyakit, sebelum
terlambat dapat terobati. Sebuah adagium: Mencegah
lebih baik dari pada mengobati.
Perkataannya telah menghipnotis alam bawah sadar saya; saya telepon
Aba atau Umi sekedar izin pulang pondok. Akhirnya, Aba mengizinkan. Dan, tadi
malam (27/8) saya bareng Umi pergi ke rumah Pak Muhbi—biasa orang
menyebutnya—dokter yang tinggal di kecamatan Ambunten. Ditanya apanya yang
sakit, saya dan Umi menjawab saya hanya ingin periksa kesehatan. Titik.
Saya dipersilahkan berbaring di atas kasur empuk rumah sakit; tekanan
darah dicek dan lain-lain. “Tekanan darah sampean normal-normal saja,” jelas
Pak Muhbi, “hanya saja darahnya kotor.” Andai saja sopeda motor, olinya kotor
sehingga berakibat ketidakstabilan bagian-bagian sepeda bekerja. Kira-kira
seperti itu.
Saya ditawarkan suntik atau konsumsi obat-obatan. Dirasa konsumsi obat-obatan
lebih baik, kami—saya dan Umi—memutuskan “iya”. Di antara obat-obatan yang tersedia
meliputi: [a] Royal Jelly yang
berguna meregenerasi sel rusak; mengurangi gejala penyakit degeneratif;
mempercepat pemulihan penyakit; mencegah dan mengurangi tanda-tanda penuaan
dini dan kerusakan pada kulit; memperbaiki kolagen dan meningkatkan elastisitas
kulit; menambah kesuburan pria dan wanita, menyeimbangkan hormon, mengatasi
masalah haid, PMS, nyeri haid, haid tidak teratur, sulit punya keturunan;
mengurangi gejala menopause; memperbaiki sistem syaraf, mengatasi insomnia,
migraine, vertigo, stress dan depresi, stroke, parkinson, epilepsy; [b] Bee Propolis yang berfungsi
menghilangkan radikal bebas; mencegah dan mengatasi tumor dan kanker; mengatasi
penyakit akibat bakteri, virus dan jamur; mengurangi radang dan rasa nyeri;
melarutkan plak pembuluh darah, kristal asam urat, dan batu ginjal;
meningkatkan imunitas serta mencegah dan mengurangi gejala alergi; dan [c] Bee Pollens yang bermanfaat Chewable
Pollen untuk anak-anak; menormalkan nafsu makan pada anak; memperlancar
peredaran darah; meningkatkan kualitas darah dan menambah daya ikat oksigen
hingga 25%; memperbaiki fungsi organ tubuh; meningkatkan stamina dan
imunitas; meningkatkan konsenstrasi,
kemampuan analisis dan daya tangkap; mengatasi masalah perkembangan dan mental
pada anak-anak.
Cukup jelas keterangan obat-obatan yang ditawarkan. Ditanya
harganya—saya sudah lupa spesifikasi harga per-botol—ada yang satu botol
seharga lima ratus ribu, ada seharga seratus ribu lebih, dsb. Bisa beli sebagian? Umi saya tanya. Si
dokter jawab “boleh”. Dugaan saya, si dokter ngira harga tiga macam obat-obatan
itu sangat mahal, sebotol kapsul Dynamic
3 ditawarkan kemudian. Dijelaskan, kapsul ini mencakup tiga macam
obat-obatan di atas. Harganya lumayan terjangkau. “Saya rutin mengomsumsi kapsul
ini,” tambahnya semakin menguatkan keyakinan saya.
Selain dibantu si dokter yang menjelaskan, saya dipersilahkan
membaca manfaat kapsul ini melalui keterangan tertulis. “Dynamic 3 bermanfaat meningkatkan imunitas; meningkatkan vitalitas
dan stamina; meningkatkan konsentrasi dan memori; mengurangi stress dan
depresi; mengandung antrioksidan sebagai antri kanker dan menetralkan radikal
bebas; menjaga kulit awet muda; nutrisi lengkap, mengandung royal jelly,
propolis dan pollen.”
Saya bersyukur kondisi tubuh saya tak terlalu parah. Dokter dekat
rumah masih bisa mengatasi. Dan baru saya ingat saya check-up kesehatan telah dua kali: kemarin menjelang Hari Raya Idul
Fitri dan sekarang.
Masih saya mengingat petuah Kiai Fikri pada acara ORDIK Kampus
INSTIKA di Masjid Jamik Annuqayah tentang kesehatan: “Menjaga kesehatan adalah
termasuk dari mensyukuri nikmat Allah swt.” Maka, Az-Zarnuji menyebut dalam
kitab Ta’lim Mutaallim tentang pentingnya belajar ilmu
kedokteran. Sekalipun tidak fardu ain belajar/mengetahuinya, setidak-tidaknya
kita bisa merawat tubuh kita sendiri, itu sudah cukup.
Sehat menjadi penting karena kesehatan tubuh sangat mempengaruhi
terhadap segala aktivitas, baik aktivitas berfikir maupun aktivitas bekerja.
Aktivitas berjalan stabil dan mendapatkan hasil mendekati maksimal selalu
digantungkan pada kesehatan tubuh. Banyak orang cuti ngantor, mogok kerja,
menunda baca buku, tidak rutin menulis, dsb karena sedang sakit. “Betapa
mahalnya sehat!” Mulut saya berdesis takjub.
Kesehatan tak dapat ditukar/dibeli dengan limpahan uang. Sehat
adalah rezeki Tuhan yang sering tak disadari makhluk-Nya sehingga mereka nekad kufur/jarang
bersyukur. Mujur Tuhan kita Maha Penyayang; setiap kejanggalan, sikap sombong,
kufur, dll, masih dimaafkan.
Semoga ikhtiar saya ini menjadi salah satu ungkapan rasa syukur
saya dan mengingat-Nya lebih dekat! Dan, yang saya perbuat membuahkan hasil
positif! Amin.[]
No comments:
Post a Comment