Sunday, September 27, 2015

Tafsir Kepribadian Gus Dur



Judul Buku
Gus Dur Garis Miring PKB
Penulis
A. Mustafa Bisri
Penerbit
MataAir Publishing Surabaya
Cetakan
1, Mei 2008
Tebal
xvi + 137 halaman
ISBN
978-979-25-1538-1

Abdurrahman Wahid—akrab disapa Gus Dur—adalah cucu KH. Moh. Hasyim Asy’ari, the founding father organisasi besar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Melihat Kyai Hasyim, tentu tak ragu lagi bahwa beliau termasuk ulama, penulis, dan pahlawan yang ikhlas mengabdi demi kemaslahatan dan masa depan umat dan Negara Indonesia dari gempuran belanda.

Kehadiran Gus Dur tanpa minus, malah melebihi dari sifat dan potensi kakeknya. Tak ayal, jamak orang—orang Indonesia sendiri dan atau orang luar negeri—yang menafsirkan Gus Dur dari segala sisi. Sebagian mengatakan Gus Dur ulama; sebagian menyebutnya wali; sebagian menafsirkan penulis; sebagian mengatakan politikus; dan sebagainya.

Aneka macam lakab yang disematkan kepada Gus Dur tentunya tak lepas dari cara orang menafsirkan dirinya—mulai dari yang menyukai hingga yang membenci. Buku Gus Dur Garis Miring PKB-nya A. Mustafa Bisri salah satu dari sekian buku yang menafsirkan pribadi Gus Dur.

Menurut Gus Mus—sapaan KH. A. Mustafa Bisri—[1] Gus Dur kutu buku. Ke manapun dan kapan pun di tangannya selalu ada buku. Seringnya novel bahasa Inggris, atau paling tidak majalah (dia selalu baca Times atau Newsweek, dan The Economics). Di ruang tunggu bioskop, terminal, bahkan ketika berdiri di atas bus, dia bisa asyik membaca tanpa menghiraukan kanan kiri. Bahkan Gus Mus—yang berjalan bersamanya—sering dianggap tidak ada ketika dia sedang asyik membaca (hal 1);

[2] Gus Dur kontorversial. Baginya, perbedaan disikapi secara fitri. Tak ayal, ia selalu berbeda pendapat, baik soal partai maupun hal yang lain, tanpa disertai pertengkaran. Sikap yang kalap dan keras sedikit pun tak terdikte dalam pribadinya. Atas dasar perbedaan, tak sedikit orang yang tidak setuju, namun ia tetap menghormati. “Kenapa harus tersinggung karena pendapatku ditolak orang lain, wong aku sering menolak pendapat mereka.” Kira-kira seperti ini respons Gus Dur saat dihadapkan dengan perbedaan;

[3] Gus Dur sangat layak dilakapi ‘seorang ulama/kyai’. Selain alim, ia secara faktor genetik adalah cucu Kyai Hasyim Asy’ari, pendiri NU yang hingga sekarang masih langgeng. Atas faktor keturunan ulama besar, tak dipertanyakan lagi putra beliau, A. Wahid Hasyim—pahlawan Nasional—memiliki putra Gus Dur yang mampu menjadi penakluk. Berkat kealiman dan multi-talenta, Gus Dur pernah dipercaya menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan juri Festival Film Nasional (hal x);

Dan, [4] Gus Dur dapat disebut politikus. Keikutsertaan Gus Dus dalam pelbagai organisasi tak dapat diragukan. Ia pernah menjabat ketua umum PBNU selama 3 periode; pendiri PKB (Partai Kebangkitan Bangsa); dan presiden Indonesia ke-4.

Selain itu, kedekatan Gus Mus dengan Gus Dur atas keikutsertaan mereka berdua di ranah politik juga menjadi faktor lahirnya buku ini. Berdasarkan pengakuan Gus Mus, bahwa ia dekat dengan Gus Dur sejak mereka kuliah di Al-Azhar Mesir. Dilanjutkan pasca-kuliah—setelah mereka pulang ke tanah kelahiran mereka—persahabatan di antara mereka tetap terjalin kuat. Hanya saja sejak Gus Dur menjabat ketua umum PBNU, apalagi presiden Indonesia, mereka jarang bertemu. Persabahatan di antara mereka sering berlangsung di medan ponsel atau lewat media cetak/koran.

Tak ayal, saat Gus Dur jelas-jelas terpilih sebagai presiden lalu para kiai yang diundang ke istina mengucapkan selamat, Gus Mus menyampaikan ‘belasungkwa’ (hal. 123). Sebab, keberadaan Gus Dur, bagi Gus Mus, di meja kepresidenan akan semakin mempersulit mengikat persahabatan lebih erat kembali seperti tempo dulu.

Atas sikap kontroversinya, sulit membaca pemikiran/keinginan Gus Dur. Kesulitan ini, diungkap dalam buku ini dengan kritik Gus Mus saat Gus Dur bertindak sesukanya. Sampai timbul komentar negatif dari Gus Mus sendiri dan para kiai; setelah mencermati keresahan warga NU di berbagai daerah terutama akibat hubungan memburuk akhir-akhir ini antara mereka (NU) dan PKB, partai yang didukung oleh mayoritas warga NU, kami—beberapa kiai Pesantren yang mengadakan pertemuan terbatas di rumah Almarhum KH. Bisri Mustofa di Rembang, tanggal 14 Jumadil Akhir 1424/ 12 Agustus 2003—menilai bahwa hal itu akibat dari antara lain kinerja DPP PKB yang sering mengabaikan aturan organisasi, asas demokrasi dan etika pergaulan bersama seperti yang selama ini dianut oleh warga NU. Budaya musyawarah dan tabayun, misalnya, hampir tidak pernah dilakukan (hal 128-129).

Hadirnya buku ini, bagi Gus Mus sendiri, bukan tafsir yang final tentang kepribadian Gus Dur. Buku ini benar-benar cocok dijadikan cermin melangkah ke depan dan terjun di ranah politik seperti Gus Dur. Tentang kesalahan ketik, tak menjadi kesalahan yang fatal. Selamat membaca![]

Lubangsa, 31 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...