Gus Dur Garis Miring PKB
Penulis
A. Mustafa Bisri
Penerbit
MataAir Publishing
Surabaya
Cetakan
1, Mei 2008
Tebal
xvi + 137 halaman
ISBN
978-979-25-1538-1
Abdurrahman Wahid—akrab
disapa Gus Dur—adalah cucu KH. Moh. Hasyim Asy’ari, the founding father organisasi
besar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Melihat Kyai Hasyim, tentu tak
ragu lagi bahwa beliau termasuk ulama, penulis, dan pahlawan yang ikhlas
mengabdi demi kemaslahatan dan masa depan umat dan Negara Indonesia dari
gempuran belanda.
Kehadiran Gus Dur tanpa
minus, malah melebihi dari sifat dan potensi kakeknya. Tak ayal, jamak
orang—orang Indonesia sendiri dan atau orang luar negeri—yang menafsirkan Gus
Dur dari segala sisi. Sebagian mengatakan Gus Dur ulama; sebagian menyebutnya
wali; sebagian menafsirkan penulis; sebagian mengatakan politikus; dan
sebagainya.
Aneka macam lakab yang
disematkan kepada Gus Dur tentunya tak lepas dari cara orang menafsirkan dirinya—mulai
dari yang menyukai hingga yang membenci. Buku Gus Dur Garis Miring PKB-nya
A. Mustafa Bisri salah satu dari sekian buku yang menafsirkan pribadi Gus Dur.
Menurut Gus Mus—sapaan
KH. A. Mustafa Bisri—[1] Gus Dur kutu buku. Ke manapun dan kapan pun di
tangannya selalu ada buku. Seringnya novel bahasa Inggris, atau paling tidak
majalah (dia selalu baca Times atau Newsweek, dan The
Economics). Di ruang tunggu bioskop, terminal, bahkan ketika berdiri di
atas bus, dia bisa asyik membaca tanpa menghiraukan kanan kiri. Bahkan Gus Mus—yang
berjalan bersamanya—sering dianggap tidak ada ketika dia sedang asyik membaca
(hal 1);
[2] Gus Dur
kontorversial. Baginya, perbedaan disikapi secara fitri. Tak ayal, ia selalu
berbeda pendapat, baik soal partai maupun hal yang lain, tanpa disertai
pertengkaran. Sikap yang kalap dan keras sedikit pun tak terdikte dalam
pribadinya. Atas dasar perbedaan, tak sedikit orang yang tidak setuju, namun ia
tetap menghormati. “Kenapa harus tersinggung karena pendapatku ditolak orang
lain, wong aku sering menolak pendapat mereka.” Kira-kira seperti ini respons
Gus Dur saat dihadapkan dengan perbedaan;
[3] Gus Dur sangat layak
dilakapi ‘seorang ulama/kyai’. Selain alim, ia secara faktor genetik adalah cucu
Kyai Hasyim Asy’ari, pendiri NU yang hingga sekarang masih langgeng. Atas
faktor keturunan ulama besar, tak dipertanyakan lagi putra beliau, A. Wahid
Hasyim—pahlawan Nasional—memiliki putra Gus Dur yang mampu menjadi penakluk. Berkat
kealiman dan multi-talenta, Gus Dur pernah dipercaya menjadi ketua Dewan
Kesenian Jakarta (DKJ) dan juri Festival Film Nasional (hal x);
Dan, [4] Gus Dur dapat
disebut politikus. Keikutsertaan Gus Dus dalam pelbagai organisasi tak dapat
diragukan. Ia pernah menjabat ketua umum PBNU selama 3 periode; pendiri PKB
(Partai Kebangkitan Bangsa); dan presiden Indonesia ke-4.
Selain itu, kedekatan
Gus Mus dengan Gus Dur atas keikutsertaan mereka berdua di ranah politik juga
menjadi faktor lahirnya buku ini. Berdasarkan pengakuan Gus Mus, bahwa ia dekat
dengan Gus Dur sejak mereka kuliah di Al-Azhar Mesir. Dilanjutkan
pasca-kuliah—setelah mereka pulang ke tanah kelahiran mereka—persahabatan di
antara mereka tetap terjalin kuat. Hanya saja sejak Gus Dur menjabat ketua umum
PBNU, apalagi presiden Indonesia, mereka jarang bertemu. Persabahatan di antara
mereka sering berlangsung di medan ponsel atau lewat media cetak/koran.
Tak ayal, saat Gus Dur
jelas-jelas terpilih sebagai presiden lalu para kiai yang diundang ke istina
mengucapkan selamat, Gus Mus menyampaikan ‘belasungkwa’ (hal. 123). Sebab,
keberadaan Gus Dur, bagi Gus Mus, di meja kepresidenan akan semakin mempersulit
mengikat persahabatan lebih erat kembali seperti tempo dulu.
Atas sikap
kontroversinya, sulit membaca pemikiran/keinginan Gus Dur. Kesulitan ini,
diungkap dalam buku ini dengan kritik Gus Mus saat Gus Dur bertindak sesukanya.
Sampai timbul komentar negatif dari Gus Mus sendiri dan para kiai; setelah
mencermati keresahan warga NU di berbagai daerah terutama akibat hubungan
memburuk akhir-akhir ini antara mereka (NU) dan PKB, partai yang didukung oleh
mayoritas warga NU, kami—beberapa kiai Pesantren yang mengadakan pertemuan
terbatas di rumah Almarhum KH. Bisri Mustofa di Rembang, tanggal 14 Jumadil
Akhir 1424/ 12 Agustus 2003—menilai bahwa hal itu akibat dari antara lain
kinerja DPP PKB yang sering mengabaikan aturan organisasi, asas demokrasi dan
etika pergaulan bersama seperti yang selama ini dianut oleh warga NU. Budaya
musyawarah dan tabayun, misalnya, hampir tidak pernah dilakukan (hal
128-129).
Hadirnya buku ini, bagi
Gus Mus sendiri, bukan tafsir yang final tentang kepribadian Gus Dur. Buku ini
benar-benar cocok dijadikan cermin melangkah ke depan dan terjun di ranah
politik seperti Gus Dur. Tentang kesalahan ketik, tak menjadi kesalahan yang
fatal. Selamat membaca![]
Lubangsa, 31 Juli 2015

No comments:
Post a Comment