Saturday, November 7, 2015

Warisan Kiai-kiai Annuqayah yang Memukau hingga Sekarang



Klise diumbar-umbar Annuqayah sebagai pesantren yang produktif mencetak santri yang mahir dalam tulis-menulis. Sebab, tak sedikit santri, pun alumni, yang menekuni dunia pena ini. Sebagai misal, Jamal D. Rahman, pimpinan redaksi Majalah Sastra Horison; Ach. Maimun Syamsuddin, penulis lepas dan penulis buku; Abdul Wahid Hasan, penulis buku SQ Nabi dan Shalat Sunah Bersama Nabi; Khodri Arief, dosen terbang, sekaligus penulis; Naufil Istikhari, penulis lepas; Fathorrahman dosen INSTIKA, penulis buku Statistika; Ach. Taufiqil Aziz penulis buku Drs. KH. A. Warits Ilyas Inspirator dan Guru Umat; Abrori, pimpinan redaksi Koran Radar Madura; dst.

Sekian misal di atas hanya sebagian saja yang dapat saya ungkap. Saya kira beberap misal itu cukup dijadikan sampel atas pengamatan saya. Selain itu, bakat kepenulisan telah mangantarkan mereka meraih prestasi-prestasi bergengsi, baik lokal maupun nasional.

Melihat kenyataan yang tak dapat ditolak, beberapa pertanyaan bertandang di dalam pikiran saya: Apakah bakat santri Pondok Pesantren Annuqayah dalam dunia tulis-menulis adalah suatu kebetulan? Mereka bisa karena semangat yang membakar dalam diri mereka tanpa terkecuali? Atau kiai-kiai yang mengasuh pondok pesantren ini yang lebih dulu memulai dan menekuni dunia kepenulisan?

Dinukil dalam kitab Fiqh al-Ibadah-nya Kiai Muhammad Muhsin bin Amir, bahwa Kiai Muhammad Ilyas bin Muhammad Asy-Syarqawi adalah kiai Pondok Pesantren Annuqayah, selain cerdas, jujur, eksis, dan fasih bacaannya, juga pandai menulis. Sehingga, karya-karya beliau dapat dibaca banyak orang. Sebagian santri beliau melakabi beliau dengan sastrawan Arab.

Karya-karya Kiai Ilyas yang sampai kepada kita meliputi Mandhumah Safinah al-Shalah (membahas tentang tauhid dan shalat), Mandhumah al-Risalah (fokus membahas tauhid), dan Khutbah Jum’at (teks khutbah untuk shalat Jum’at).

Sedangkan, kiai-kiai yang lain yang eksis menulis hingga sekarang, di antaranya, KH. Abd. Basit AS (penulis Suri Tauladan bagi Santri, Tafsir Surah Yasin, dll), K. M. Faizi (penulis buku Delapanbelas Plus, Sareyang, Rumah Bersama, Permaisuri Malamku, dan pengelola “sareyang.blogspot.com”), K. M. Mushthafa (penulis buku 10 Bulan Pengalaman Eropa, Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel, Jalan ke Surga, dan pengelola “rindupulang.blogspot.com”), KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, dst.

Sebagian kiai Pondok Pesantren Annuqayah yang telah memulai dan terjun di dunia pena membekas kuat dalam hati nurani santri. Seakan-akan menjadi pengajaran dan pendidikan ­bi al-hal, yang lebih bermutu daripada pengajaran bi al-lisan. Tak dapat dipungkiri, santri/murid akan selalu berusaha meniru dan menjadi seperti gurunya.

Pilihan menjadi penulis bukanlah asal-asalan karena tidak punya kerjaan, tapi semangat yang memompa andrenalin kita. Selain karena pengaruh lingkungan, terinspirasi dari petikan pesan Allah swt. yang disampaikan dalam Al-Qur’an: Nun wal qalami wamaa yasturuun. Nun demi pena dan sesuatu yang mereka catat.

Dalam Marah Labid Tafsir al-Nawawi Muhammad Nawawi Al-Jawi menafsirkan firman Allah swt. tersebut: Nun—yang dalam Tafsir Jalalain tidak berani ditafsirkan. Dinyatakan: Wa Allahu a’lamu bi muradihi. Hanya Allah yang lebih mengetahui maksudnya—ditafsirkan dengan menyitir perkataan Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nun itu adalah tinta (al-dawaah).” Oleh sebab itu, Allah swt. bersumpah dengan tinta dan pena. Dan, keduanya ini mempunyai manfaat yang besar.

Tak ayal, al-qalam (pena) diabadikan sebagai salah satu nama surah Al-Qur’an karena efek positifnya yang mencuat: tulisan-tulisan yang lahir dari tangan kita akan menjadi manuskrip yang akan dibaca generasi-genarasi setelah kita. Faktanya, mushaf Al-Qur’an sendiri yang dikumpulkan dan dibukukan oleh Abu Bakar, Umar ibnu Khattab, Utsman bin Affan, dan beberapa sahabat yang lain dapat kita baca sekarang. Sebaliknya, andai saja Al-Qur’an tidak ditulis, niscaya manusia setelah wafatnya Nabi saw. dan sahabat-sahabat beliau akan menjadi buta—untuk tidak mengatakan tercampakkan ke zaman jahiliyah.

Dalam sebuah hadits yang dijadikan penafsiran ayat tersebut dalam Tafsir al-Qur’an al-Adim-nya Abi Al-Fada’ Al-Hafid Ibnu Katsir disebutkan: “Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah swt. adalah pena dan ikan gabus, lalu Dia mengatakan kepada pena: Tulislah. Pena tanya: Apa yang akan saya tulis? Allah swt. menjawab: Setiap sesuatu yang ada hingga hari kiamat.

Hadits yang lain memperjelas maksud prase ‘sesuatu yang ada itu’: “…yang ditulis bisa berupa perbuatan yang baik atau yang buruk dan rizeki yang halal atau yang haram….”

Beberapa petikan hadits yang dijadikan tafsir bi al-ma’sur sebagai tipe sumber penafsiran Tafsir Al-Qur’an al-Adim—atau yang lebih populer disebut Tafsir Ibnu Katsir—adalah suatu anugerah yang patut disyukuri, yakni dengan belajar menulis. Allah swt. tidak main-main menyatakan dengan tegas dalam hadits itu, apalagi Allah swt. bersumpah atas nama “pena” dalam Al-Qur’an.

Memilih pekerjaan menulis sebagai media belajar, mengajar, berdakwah, mengasah otak, dst adalah pilihan yang tepat. Berjuta-juta manusia di muka bumi yang cemerlang masa depannya karena menulis dan menulis. Sebagai misal, hadirnya novel Laskar Pelangi-Andrea Hirata yang diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan penerbit-penerbit utama seperti FSG, Random House, Penguin, Mercure de France, Harper Collins, di lebih dari 120 negara, di 5 benua, mulai Amerika Selatan, Eropa Timur hingga Afrika (baca cover belakang buku Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata). Dia penulis muda yang tinggal di daerah terpencil, yaitu Melayu Belitong Indonesia.

Menulis tak seperti kita membalikkan telapak tangan. Tanpa proses. Melainkan, butuh ketekunan dan kesabaran. Tak hanya dalam menulis, tetapi juga membaca. Sungguh sangat mustahil, orang dapat menulis tanpa membaca. Sebab, menulis merupakan ekspresi dari apa yang terbersit dalam pikiran. Jika pikiran kita blank, tentu tak kan ada yang ingin ditulis.

Manusia yang aktivitas sehari-harinya dilalui dengan membaca dan menulis sebenarnya sedang keluar dari kungkungan kebodohan yang mencekal dan mendokumentasikan sesuatu yang melekat dalam ingatannya. Cahaya Allah swt. telah direngkuhnya.

Sungguh kebiasaan kiai-kiai Pondok Pesantren Annuqayah (menulis) hingga tetap diteruskan santri-santrinya tanpa kita sandari adalah warisan positif yang selamat dari kecaman bidah, khurafat atau takhayul. Bahkan, warisan itu adalah mutiara yang terinspirasi dari pesan Allah swt. dan sabda Nabi Muhammad saw.[]     

Annuqayah, 1 November 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...