Klise diumbar-umbar Annuqayah sebagai pesantren yang produktif
mencetak santri yang mahir dalam tulis-menulis. Sebab, tak sedikit santri, pun
alumni, yang menekuni dunia pena ini. Sebagai misal, Jamal D. Rahman, pimpinan
redaksi Majalah Sastra Horison; Ach. Maimun Syamsuddin, penulis lepas dan
penulis buku; Abdul Wahid Hasan, penulis buku SQ Nabi dan Shalat Sunah Bersama Nabi;
Khodri Arief, dosen terbang, sekaligus penulis; Naufil Istikhari, penulis lepas;
Fathorrahman dosen INSTIKA, penulis buku Statistika;
Ach. Taufiqil Aziz penulis buku Drs. KH. A. Warits Ilyas Inspirator dan Guru
Umat; Abrori, pimpinan redaksi Koran
Radar Madura; dst.
Sekian misal di atas hanya sebagian saja yang dapat saya ungkap.
Saya kira beberap misal itu cukup dijadikan sampel atas pengamatan saya. Selain
itu, bakat kepenulisan telah mangantarkan mereka meraih prestasi-prestasi
bergengsi, baik lokal maupun nasional.
Melihat kenyataan yang tak dapat ditolak, beberapa pertanyaan
bertandang di dalam pikiran saya: Apakah bakat santri Pondok Pesantren
Annuqayah dalam dunia tulis-menulis adalah suatu kebetulan? Mereka bisa karena
semangat yang membakar dalam diri mereka tanpa terkecuali? Atau kiai-kiai yang
mengasuh pondok pesantren ini yang lebih dulu memulai dan menekuni dunia
kepenulisan?
Dinukil dalam kitab Fiqh al-Ibadah-nya Kiai Muhammad Muhsin
bin Amir, bahwa Kiai Muhammad Ilyas bin Muhammad Asy-Syarqawi adalah kiai
Pondok Pesantren Annuqayah, selain cerdas, jujur, eksis, dan fasih bacaannya,
juga pandai menulis. Sehingga, karya-karya beliau dapat dibaca banyak orang.
Sebagian santri beliau melakabi beliau dengan sastrawan Arab.
Karya-karya Kiai Ilyas yang sampai kepada kita meliputi Mandhumah
Safinah al-Shalah (membahas tentang tauhid dan shalat), Mandhumah
al-Risalah (fokus membahas tauhid), dan Khutbah Jum’at (teks
khutbah untuk shalat Jum’at).
Sedangkan, kiai-kiai yang lain yang eksis menulis hingga sekarang,
di antaranya, KH. Abd. Basit AS (penulis Suri Tauladan bagi Santri, Tafsir
Surah Yasin, dll), K. M. Faizi (penulis buku Delapanbelas Plus, Sareyang, Rumah Bersama, Permaisuri Malamku, dan
pengelola “sareyang.blogspot.com”), K. M. Mushthafa (penulis buku 10 Bulan Pengalaman Eropa, Sekolah dalam Himpitan
Google dan Bimbel, Jalan ke Surga, dan pengelola “rindupulang.blogspot.com”),
KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, dst.
Sebagian kiai Pondok Pesantren Annuqayah yang telah memulai dan
terjun di dunia pena membekas kuat dalam hati nurani santri. Seakan-akan
menjadi pengajaran dan pendidikan bi al-hal, yang lebih bermutu
daripada pengajaran bi al-lisan. Tak dapat dipungkiri, santri/murid akan
selalu berusaha meniru dan menjadi seperti gurunya.
Pilihan menjadi penulis bukanlah asal-asalan karena tidak punya
kerjaan, tapi semangat yang memompa andrenalin kita. Selain karena pengaruh
lingkungan, terinspirasi dari petikan pesan Allah swt. yang disampaikan dalam
Al-Qur’an: Nun wal qalami wamaa yasturuun. Nun demi pena dan sesuatu
yang mereka catat.
Dalam Marah Labid Tafsir al-Nawawi Muhammad Nawawi Al-Jawi
menafsirkan firman Allah swt. tersebut: Nun—yang dalam Tafsir
Jalalain tidak berani ditafsirkan. Dinyatakan: Wa Allahu a’lamu bi
muradihi. Hanya Allah yang lebih mengetahui maksudnya—ditafsirkan dengan
menyitir perkataan Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nun itu adalah tinta (al-dawaah).”
Oleh sebab itu, Allah swt. bersumpah dengan tinta dan pena. Dan, keduanya ini
mempunyai manfaat yang besar.
Tak ayal, al-qalam (pena) diabadikan sebagai salah satu nama
surah Al-Qur’an karena efek positifnya yang mencuat: tulisan-tulisan yang lahir
dari tangan kita akan menjadi manuskrip yang akan dibaca generasi-genarasi
setelah kita. Faktanya, mushaf Al-Qur’an sendiri yang dikumpulkan dan dibukukan
oleh Abu Bakar, Umar ibnu Khattab, Utsman bin Affan, dan beberapa sahabat yang
lain dapat kita baca sekarang. Sebaliknya, andai saja Al-Qur’an tidak ditulis,
niscaya manusia setelah wafatnya Nabi saw. dan sahabat-sahabat beliau akan
menjadi buta—untuk tidak mengatakan tercampakkan ke zaman jahiliyah.
Dalam sebuah hadits yang dijadikan penafsiran ayat tersebut dalam Tafsir
al-Qur’an al-Adim-nya Abi Al-Fada’ Al-Hafid Ibnu Katsir disebutkan:
“Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah swt. adalah pena dan
ikan gabus, lalu Dia mengatakan kepada pena: Tulislah. Pena tanya: Apa
yang akan saya tulis? Allah swt. menjawab: Setiap sesuatu yang ada hingga hari kiamat.”
Hadits yang lain memperjelas maksud prase ‘sesuatu yang ada itu’:
“…yang ditulis bisa berupa perbuatan yang baik atau yang buruk dan rizeki yang
halal atau yang haram….”
Beberapa petikan hadits yang dijadikan tafsir bi al-ma’sur sebagai
tipe sumber penafsiran Tafsir Al-Qur’an al-Adim—atau yang lebih populer
disebut Tafsir Ibnu Katsir—adalah suatu anugerah yang patut disyukuri,
yakni dengan belajar menulis. Allah swt. tidak main-main menyatakan dengan
tegas dalam hadits itu, apalagi Allah swt. bersumpah atas nama “pena” dalam
Al-Qur’an.
Memilih pekerjaan menulis sebagai media belajar, mengajar,
berdakwah, mengasah otak, dst adalah pilihan yang tepat. Berjuta-juta manusia
di muka bumi yang cemerlang masa depannya karena menulis dan menulis. Sebagai
misal, hadirnya novel Laskar Pelangi-Andrea Hirata yang diterjemahkan ke
dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan penerbit-penerbit utama seperti FSG,
Random House, Penguin, Mercure de France, Harper Collins, di lebih dari 120
negara, di 5 benua, mulai Amerika Selatan, Eropa Timur hingga Afrika (baca cover
belakang buku Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata). Dia penulis muda yang
tinggal di daerah terpencil, yaitu Melayu Belitong Indonesia.
Menulis tak seperti kita membalikkan telapak tangan. Tanpa proses. Melainkan,
butuh ketekunan dan kesabaran. Tak hanya dalam menulis, tetapi juga membaca.
Sungguh sangat mustahil, orang dapat menulis tanpa membaca. Sebab, menulis
merupakan ekspresi dari apa yang terbersit dalam pikiran. Jika pikiran kita blank,
tentu tak kan ada yang ingin ditulis.
Manusia yang aktivitas sehari-harinya dilalui dengan membaca dan
menulis sebenarnya sedang keluar dari kungkungan kebodohan yang mencekal dan
mendokumentasikan sesuatu yang melekat dalam ingatannya. Cahaya Allah swt.
telah direngkuhnya.
Sungguh kebiasaan kiai-kiai Pondok Pesantren Annuqayah (menulis)
hingga tetap diteruskan santri-santrinya tanpa kita sandari adalah warisan
positif yang selamat dari kecaman bidah, khurafat atau takhayul. Bahkan,
warisan itu adalah mutiara yang terinspirasi dari pesan Allah swt. dan sabda
Nabi Muhammad saw.[]
Annuqayah, 1 November 2015
No comments:
Post a Comment