Surga yang Tak Dirindukan
Penulis
Asma Nadia
Penerbit
AsmaNadia Publishing House
Cetakan
20, Juni 2015
Tebal
xii + 300 halaman
ISBN
978-602-9055-21-4
Baiti jannati—rumahku,
surgaku. Tak sedikit masyarakat mendengungkan adagium itu. Memang benar! Rumah
itu akan menjadi surga. Tapi, rumah yang seperti apa? Rumah yang megah?
Bertingkat? Berdinding kaca?
Asma Nadia, perempuan novelis, mengisahkan kehidupan seorang
perempuan dalam rumah tangga yang didera sakit hati dan isak tangis yang sulit
dibendung karena tanggung jawab sang suami—yang oleh Allah swt. diberi amanah,
yaitu “memelihara” istrinya—menjadi nihil karena membagi cintanya (mengurangi
rasa perhatiannya) terpecah kepada perempuan lain.
Kisah itu diabadikan dalam novel Asma, Surga yang Tak
Dirindukan. Bagaimana perasaan Arini saat lihat Pras, suaminya, menikah
lagi? Bukankah surga itu telah menjelma menjadi neraka yang menghanguskan
segala ketenangan dan kesejukan cinta saat bertahun-tahun bersama Pras sejak
selesai dilangsungkannya akad nikah?
Diceritakan;
Arini bertemu dengan Pras secara tiba-tiba pas keluar dari Masjid
Al-Ghifari. Pertemuan itu terbingkai saat Arini pening mencari sebelah sepatu
ketsnya yang tersembunyi di antara rerimbunan alas kaki yang berserakan di anak
tangga masjid. Sejatinya tanpa sadar sepatu itu ditemukan di sebelah anak
tangga masjid. Di situlah pula Pras sedang fokus memandang ke arah Arini.
Tak lama setelah pertemuan itu, Pras melamar Arini. Karena
karakternya yang baik dan bertanggung jawab, lamaran itu diterima tanpa banyak
kendala.
Arini memang cantik dan santun. Sedikit-banyak Pras memilih Arini
atas sebab itu. Tapi, kecantikan itu tak seberapa bagi Pras. Sebab, menikah
sebatas polesan kecantikan, tidak akan bertahan lama. Pras tidak mudah lemah
saat mendapat kesan sinis teman-temannya tentang body istrinya yang
tidak seperti yang dulu lagi: kecantikannya semakin menyusut dan kegemukan.
Di atas kesabaran dan perjuangan bertahun-tahun membangun rumah
tangga yang baik, lahirlah tiga anak, yaitu Nadia, Adam, dan Putri. Kehadiran
buah hati ini menjadi tali pernikahan semakin kuat memikat.
Sayang, Pras setelah dikaruniai tiga anak disibukkan dengan
pekerjaan sehingga waktunya bersama keluarga terbatas dan menyempit. Arini
sering mengeluh dan menggerutu. Jiwanya goncang. Apalagi sikap suaminya yang
banyak berubah—tak seperti Pras yang dulu Arini kenal.
***
Mei seorang cewek yang mengandung bayi yang dilahirkan di rumah
sakit akhirnya ketemu dengan Pras. Sikap Pras seakan berbeda daripada laki-laki
lain yang Mei kenal sebelumnya. Baik dan serius. Pras tak seperti Ray yang tak
bertanggung jawab (memperkosanya); David yang tak jelas identitasnya; dan Luki
Hidayat yang PHP.
Pertemuan singkat yang sejatinya tujuan Pras hanya menolong Mei ke
rumah sakit, akhirnya, membuat pikiran Pras dilema. Tak dinyana, perempuan itu
jatuh cinta dan bersikeras meminta Pras mengawininya.
Pras tahu diri: ia sudah punya istri, tapi paksaan Mei seakan-akan
sulit ditolak. Pras kasihan Mei melahirkan tanpa kehadiran seorang bapak yang bertanggung
jawab. Keinginan menikahi Mei tak mendapat keputusan segera dari Arini, tapi
berjangka.
Memutar ingatan latar belakang kehidupan Mei tentunya tragis. Kehadiran
Ray dalam kehidupan Mei menjadi problem yang berkelanjutan. Kalaupun di awal
baik-baik saja, tapi sikap Ray yang memaksa Mei melayani guna memuaskan nafsu
bejat.
Apalagi kesehariannya, Mei hidup di tengah-tengah keluarga yang
kejam. Ia pernah ditutupi pintu di dalam toilet; dibentak-bentak; dst. A-iel
dan keluarganya telah menjelma manusia yang tidak berjiwa manusiawi.
Di hadapkan dengan gejolak hidup yang tampak mencekam dan menyayat
hati, adakalanya, Mei berburuk sangka kepada Tuhan (Dia jahat, atau yang lain);
adakalanya, ia semangat menjadi orang yang berkuasa nantinya (keinginan
membalas dan menjadikan A-ie budak).
***
Cinta Arini kepada Pras bukanlah cinta biasa. Cinta itu telah
mendarah dan mendaging. Tentunya, tak ingin rasa cinta itu terkelupas dan
terluka.
Setelah tahu perempuan lain yang mendekati suaminya adalah Mei
Rose, Arini bersikeras mencari Mei. Di sebuah rumah tempat Mei tinggal, Arini dan
Mei ketemu dan terjadi percekcokan. Arini minta Mei pergi dari kehidupan Pras.
Tapi, Mei tetap egois dan ambisius.
Tangis membuncah saat jelas-jelas Pras bersama perempuan
lain—tentunya, Mei—di tempat umum, lebih-lebih saat Pras jelas-jelas poligami.
Gugatan demi gugatan seakan-akan tidak ada artinya.
Siapapun—tentunya, Arini—sadar bahwa cinta suaminya tidak akan
sepenuhnya untuk dirinya, namun terbagi terhadap perempuan lain.
***
Sungguh sangat lucu dan tidak masuk akal alasan yang diutarakan
lelaki dalam novel ini tentang menikah lagi alias berpoligami. Seakan-akan
dibuat-buat.
Seorang to figure menyatakan tentang alasan berpoligami: [a]
Sekedar memenuhi tuntunan agama; [b] Mendidik masyarakat agar mau
menerima hukum Allah, bukan hanya enak-enak saja; dan [c] Dalam upaya
mengikuti sunah Nabi. ( hal 265)
Tentunya, alasan-alasan ini tidak sebanding dengan
pengakuan-pengakuan perempuan tentang poligami.
Di dalam buku ini, Asma Nadia juga menyertakan jawaban-jawaban dari
sebuah pertanyaan, “Apakah yang akan kamu lakukan jika ayah/suami/abang/anak
laki-lakimu menikah lagi?” kepada para asmanadians (pembaca buku-buku Asma
Nadia) di fanpage.
Di antaranya, [1] Saya akan bilang, bagus sih mengikuti sunah
Rasul, tapi jangan poligami dulu dong yang diutamakan. Sunah Rasul kan banyak.
Kalau poligami saya maunya nomor yang ke sekian. (Annadhiroh, 21
tahun);
[2] Berkaitan dengan poligami—di depan mata saya—yang ada hanya
kesedihan, kebohongan, sakit sampai akhir ibu dipanggil-Nya. (Yunie
Liarista Alasanx);
[3] Saya menentang keras poligami. Kalau suami menikah lagi,
saya memilih cerai. Lebih baik hidup dengan anak tercinta, hati tenang,
daripada harus melihat suami bersenang-senang dengan wanita lain. (Sulasni
Azril Sulasni, 37 tahun); dan beberapa komentar yang lain.
Novel Asma Nadia ini termasuk novel yang kritis merespons maraknya
poligami di dunia ini tanpa dipertimbangkan dengan efek negatifnya. Poligami kali
ini sungguh berbeda dengan poligami yang diterapkan Nabi Muhammad saw. Sekarang
poligami hanya dijadikan media pemuas nafsu semata. Dan, novel ini telah
diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Selamat membaca dan
menyaksikan![]
Annuqayah, 9 Oktober 2015

No comments:
Post a Comment