Saturday, November 7, 2015

Ternyata, Poligami Tak Seindah yang Mereka Bayangkan



Judul Buku
Surga yang Tak Dirindukan
Penulis
Asma Nadia
Penerbit
AsmaNadia Publishing House
Cetakan
20, Juni 2015
Tebal
xii + 300 halaman
ISBN
978-602-9055-21-4

Baiti jannati—rumahku, surgaku. Tak sedikit masyarakat mendengungkan adagium itu. Memang benar! Rumah itu akan menjadi surga. Tapi, rumah yang seperti apa? Rumah yang megah? Bertingkat? Berdinding kaca?

Asma Nadia, perempuan novelis, mengisahkan kehidupan seorang perempuan dalam rumah tangga yang didera sakit hati dan isak tangis yang sulit dibendung karena tanggung jawab sang suami—yang oleh Allah swt. diberi amanah, yaitu “memelihara” istrinya—menjadi nihil karena membagi cintanya (mengurangi rasa perhatiannya) terpecah kepada perempuan lain.

Kisah itu diabadikan dalam novel Asma, Surga yang Tak Dirindukan. Bagaimana perasaan Arini saat lihat Pras, suaminya, menikah lagi? Bukankah surga itu telah menjelma menjadi neraka yang menghanguskan segala ketenangan dan kesejukan cinta saat bertahun-tahun bersama Pras sejak selesai dilangsungkannya akad nikah?

Diceritakan;

Arini bertemu dengan Pras secara tiba-tiba pas keluar dari Masjid Al-Ghifari. Pertemuan itu terbingkai saat Arini pening mencari sebelah sepatu ketsnya yang tersembunyi di antara rerimbunan alas kaki yang berserakan di anak tangga masjid. Sejatinya tanpa sadar sepatu itu ditemukan di sebelah anak tangga masjid. Di situlah pula Pras sedang fokus memandang ke arah Arini.

Tak lama setelah pertemuan itu, Pras melamar Arini. Karena karakternya yang baik dan bertanggung jawab, lamaran itu diterima tanpa banyak kendala.

Arini memang cantik dan santun. Sedikit-banyak Pras memilih Arini atas sebab itu. Tapi, kecantikan itu tak seberapa bagi Pras. Sebab, menikah sebatas polesan kecantikan, tidak akan bertahan lama. Pras tidak mudah lemah saat mendapat kesan sinis teman-temannya tentang body istrinya yang tidak seperti yang dulu lagi: kecantikannya semakin menyusut dan kegemukan.

Di atas kesabaran dan perjuangan bertahun-tahun membangun rumah tangga yang baik, lahirlah tiga anak, yaitu Nadia, Adam, dan Putri. Kehadiran buah hati ini menjadi tali pernikahan semakin kuat memikat.

Sayang, Pras setelah dikaruniai tiga anak disibukkan dengan pekerjaan sehingga waktunya bersama keluarga terbatas dan menyempit. Arini sering mengeluh dan menggerutu. Jiwanya goncang. Apalagi sikap suaminya yang banyak berubah—tak seperti Pras yang dulu Arini kenal.

***

Mei seorang cewek yang mengandung bayi yang dilahirkan di rumah sakit akhirnya ketemu dengan Pras. Sikap Pras seakan berbeda daripada laki-laki lain yang Mei kenal sebelumnya. Baik dan serius. Pras tak seperti Ray yang tak bertanggung jawab (memperkosanya); David yang tak jelas identitasnya; dan Luki Hidayat yang PHP.

Pertemuan singkat yang sejatinya tujuan Pras hanya menolong Mei ke rumah sakit, akhirnya, membuat pikiran Pras dilema. Tak dinyana, perempuan itu jatuh cinta dan bersikeras meminta Pras mengawininya.

Pras tahu diri: ia sudah punya istri, tapi paksaan Mei seakan-akan sulit ditolak. Pras kasihan Mei melahirkan tanpa kehadiran seorang bapak yang bertanggung jawab. Keinginan menikahi Mei tak mendapat keputusan segera dari Arini, tapi berjangka.

Memutar ingatan latar belakang kehidupan Mei tentunya tragis. Kehadiran Ray dalam kehidupan Mei menjadi problem yang berkelanjutan. Kalaupun di awal baik-baik saja, tapi sikap Ray yang memaksa Mei melayani guna memuaskan nafsu bejat.

Apalagi kesehariannya, Mei hidup di tengah-tengah keluarga yang kejam. Ia pernah ditutupi pintu di dalam toilet; dibentak-bentak; dst. A-iel dan keluarganya telah menjelma manusia yang tidak berjiwa manusiawi.

Di hadapkan dengan gejolak hidup yang tampak mencekam dan menyayat hati, adakalanya, Mei berburuk sangka kepada Tuhan (Dia jahat, atau yang lain); adakalanya, ia semangat menjadi orang yang berkuasa nantinya (keinginan membalas dan menjadikan A-ie budak).   

***

Cinta Arini kepada Pras bukanlah cinta biasa. Cinta itu telah mendarah dan mendaging. Tentunya, tak ingin rasa cinta itu terkelupas dan terluka.

Setelah tahu perempuan lain yang mendekati suaminya adalah Mei Rose, Arini bersikeras mencari Mei. Di sebuah rumah tempat Mei tinggal, Arini dan Mei ketemu dan terjadi percekcokan. Arini minta Mei pergi dari kehidupan Pras. Tapi, Mei tetap egois dan ambisius.

Tangis membuncah saat jelas-jelas Pras bersama perempuan lain—tentunya, Mei—di tempat umum, lebih-lebih saat Pras jelas-jelas poligami. Gugatan demi gugatan seakan-akan tidak ada artinya.

Siapapun—tentunya, Arini—sadar bahwa cinta suaminya tidak akan sepenuhnya untuk dirinya, namun terbagi terhadap perempuan lain.

***

Sungguh sangat lucu dan tidak masuk akal alasan yang diutarakan lelaki dalam novel ini tentang menikah lagi alias berpoligami. Seakan-akan dibuat-buat.

Seorang to figure menyatakan tentang alasan berpoligami: [a] Sekedar memenuhi tuntunan agama; [b] Mendidik masyarakat agar mau menerima hukum Allah, bukan hanya enak-enak saja; dan [c] Dalam upaya mengikuti sunah Nabi. ( hal 265)

Tentunya, alasan-alasan ini tidak sebanding dengan pengakuan-pengakuan perempuan tentang poligami.

Di dalam buku ini, Asma Nadia juga menyertakan jawaban-jawaban dari sebuah pertanyaan, “Apakah yang akan kamu lakukan jika ayah/suami/abang/anak laki-lakimu menikah lagi?” kepada para asmanadians (pembaca buku-buku Asma Nadia) di fanpage.
Di antaranya, [1] Saya akan bilang, bagus sih mengikuti sunah Rasul, tapi jangan poligami dulu dong yang diutamakan. Sunah Rasul kan banyak. Kalau poligami saya maunya nomor yang ke sekian. (Annadhiroh, 21 tahun);

[2] Berkaitan dengan poligami—di depan mata saya—yang ada hanya kesedihan, kebohongan, sakit sampai akhir ibu dipanggil-Nya. (Yunie Liarista Alasanx);

[3] Saya menentang keras poligami. Kalau suami menikah lagi, saya memilih cerai. Lebih baik hidup dengan anak tercinta, hati tenang, daripada harus melihat suami bersenang-senang dengan wanita lain. (Sulasni Azril Sulasni, 37 tahun); dan beberapa komentar yang lain.

Novel Asma Nadia ini termasuk novel yang kritis merespons maraknya poligami di dunia ini tanpa dipertimbangkan dengan efek negatifnya. Poligami kali ini sungguh berbeda dengan poligami yang diterapkan Nabi Muhammad saw. Sekarang poligami hanya dijadikan media pemuas nafsu semata. Dan, novel ini telah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Selamat membaca dan menyaksikan![]

Annuqayah, 9 Oktober 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...