Saturday, November 7, 2015

Saling Berbagi Kebahagian dan Menanamkan Sifat Kemanusiaan



Judul Buku
The Secret of a Happy Life
Penulis
Ust. Yusuf Mansur
Penerbit
Penerbit Zikrul Hakim
Cetakan
1, Juli 2012
Tebal
222 halaman
ISBN
978-979-063-741-2

Manusia adalah makhluk sosial. Segala kebutuhan—sandang, pangan, dan papan—tidak akan terpenuhi tanpa kehadiran/bantuan orang lain.

Sebab, manusia berstatus ‘makhluk’ yang lemah dan serba terbatas. Dengan kehidupan yang saling bahu-membahu, dinamika hidup akan terkesan ringan hingga segala impian terpenuhi. Yang kaya membantu yang miskin; yang lemah membantu yang kuat; dst.

Buku The Secret of a Happy Life-nya Ust. Yusuf Mansur menggambarkan perjalanan hidup Luqman—tokoh dalam buku ini—guna menginvestigasi kondisi hidup masyarakat. Banyak yang ditemui Luqman. Ada seorang bocah yang mengkritik ketidakpedulian penduduk yang ekonominya melangit. Jeritan anak-anak yang kelaparan. Sebagian masyarakat yang tidak mampu membeli pakaian baru menjelang hari raya.

Melihat keresahan yang bertubi-tubi, Ust. Yusuf Mansur memberikan langkah-langkah secara keagamaan untuk hidup bahagia; kaya dan saling berbagi. Pertama, mensedekahkan sebagian harta kepada yang membutuhkan—lebih-lebih orang miskin. Sedekah ini adalah salah satu perintah Allah swt. yang termaktub dalam Al-Qur’an dengan janji-janji-Nya untuk dibalas berkali-kali lipat. Balasan itulah yang akan menjanjikan harta seseorang bertambah hingga ia menjadi kaya. Hanya saja banyak orang yang merespons pernyataan-Nya itu dengan sinis.

Kesuksesan adalah ketika kita mampu berbagi kesuksesan itu sendiri. (hal 115). Jika orang mengiyakan dan menyadari pernyataan ini, tentu ia selalu tersentuh hati nuraninya saat menjumpai orang mengais-ngais kelaparan dan merintih kesusahan. Sebab, mayoritas yang kaya loba merasakan kebahagian sendiri, tanpa berbagi dan membantu.

Kedua, menanamkan sifat kemanusiaan. Bersemayamnya sifat ini dalam diri seseorang, maka hidup saling melindungi.

Mungkin masih dianggap biasa jika manusia kikir. Tapi, yang sangat tragis jika seorang menyiksa yang lain, padahal mereka saudaranya sendiri—baik beda agama, suku, dan etnis.

Dalam buku ini diurai perbuatan kriminal yang menyayat hati. Sebut, pemerkosaan seorang gadis kemudian ia dibunuh; bapak yang memerkosa anaknya sendiri; dst.

Perbuatan sadis manusia terhadap saudaranya lebih tidak manusiawi daripada binatang. Dalam Al-Qur’an: Tsumma radadnahu asfala safiliin. Lalu kami mengembalikannya (manusia) menjadi yang paling hina daripada orang yang hina. Padahal ia tercipta dengan rupa yang mulia—lebih mulia daripada malaikat, syetan, jin, dan hewan. Binatang saja yang tidak dikaruniai akal, masih menyayangi hewan yang lain. Terus, kenapa manusia sekejam itu?

The Secret of a Happy Life merupakan buku pertama di antara 4 jilid buku Be Inspiring-nya Ust. Yusuf Mansur. Buku ini dikemas dengan cerita-cerita faktual yang ditemui Luqman. Membacanya tidak njelimet karena kata-katanya yang sederhana. Hanya buku ini, bagi saya, kurang memukau mengarungi setiap kata perkata. Sejauh feeling dan mood saya, Ust. Yusuf Mansur ini lebih cocoknya bukan sebagai penulis, tapi hanya saja beliau menulis buku. Beliau lebih berbakat di dunia ceramah/dai.

Tapi, tak kenapa Ust. Yusuf Mansur terus berkarya, karena setiap karyanya tetap dibutuhnya. Bisa jadi, anggapan saya tentang keminusan buku ini salah kerena saya masih kali pertama membaca karya-karya beliau.[]

Annuqayah, 3 Oktober 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...