Monday, July 6, 2015

Belajar Menulis di Blog



Kalau pun di rumah tersedia laptop untuk lebih leluasa menulis, sifat nakal tetap saja menjerat tangan saya pijat tombol untuk menulis. Yang sering saya lakukan hanya nonton film atau mendengarkan musik. Dua aktivitas ini menjadi penting jika saya bisa menyikapinya; menjadikan nonton sebagai tambahan pengetahuan untuk mengetahui cara berekspresi dan bertutur, demikian mendengarkan musik untuk menyimak makna yang tersurat, melatih listening dll.

Namun, aktivitas menulis, bagi saya, jauh lebih penting untuk mewarnai dunia dibanding nonton dan dengar musik. Tanpa kita sadari dunia menjadi berkembang; kaya peradaban, ekonomi meningkat, dan teknologi berkembang pesat, tentu tak lepas dari warisan manuskrip-manuskrip yang lahir dari aktivitas menulis. Contoh gamblangnya Al-Qur’an yang mampu kita rengkuh dan baca sekarang karena ditulis sehingga menjadi mushaf. Dibayangkan saja, bagaimana jadinya andaikan Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dan disampaikan kepada para sahabat hingga mereka mampu menghafalnya, tidak dimushafkan? Tentu, kita akan menjadi orang yang buta dan bodoh karena tidak bisa membaca dan memahaminya.

Ghirah menulis saya mampu bangkit kembali sejak saya punya blog. Melalui blog, saya dapat menge-post tulisan-tulisan saya sehingga dapat dibaca banyak orang di penjuru dunia. Entahlah komentar pembaca itu positif atau negatif; suka atau tidak. Nyatanya benar. Sejak blog saya jadi, saya telah posting 42 tulisan yang saya ketik di komputer dan selesai diedit jauh hari sebelum itu. Tulisan itu saya posting di Tebuireng Jombang. Di sana banyak warnet yang buka di pinggir jalan. Kira-kira 3 warnet. Hanya saja blog saya masih sepi pengunjung alias pengikutnya nol. Saya sadari itu masih blog baru. Tak seperti “Rindu Pulang,” blog Kiai M. Musthafa, “Dee Idea,” blog milik Dee Lestari, “Sareyang,” blog yang dikelola Kiai M. Faizi, dll. Ketiga blog ini dibuat sebelum tahun 2002-an, tahun sebelum saya tahu-menahu tentang dunia kepenulisan, dan telah ditambahkan di blog saya. Oleh sebab itu, saya dapat membaca tulisan-tulisan ketiga penulis terkenal ini karena saya legal jadi pengikutnya.

Bercita-cita menjadi penulis yang handal memang mudah, tapi membikin cita-cita ini menjadi kenyataan sungguh sangat dan sangat sulit. Saya husn al-dhan bahwa menulis di blog saya, “Taretan Kaffah”, menjadi awal saya melangkah, mengarsip tulisan-tulisan saya dan berproses untuk meraih mimpi melangit dan tertanam kuat di hati yaitu menjadi penulis. Saya sadar, masing-masing orang punya mimpi yang berbeda. Kalau pun mimpi saya bukanlah mimpi mereka, saya tak peduli. Karena mimpi yang saya junjung adalah hasil ikhtiar saya. Hati saya berkeyakinan bahwa menjadi penulis adalah cita-cita yang mampu menjebatani-keluar dari kesulitan hidup menjadi mudah.

Merujuk cerita teman saya di Tebuireng bahwa Radit Adhitiya sukses dan booming melalui perantara posting tulisan-tulisannya di blog. Tak elak, jamak orang yang suka mengkonsumsi tulisan-tulisannya. Sehingga, nama Adhitiya kesohor.

Selain itu, seorang yang berproses dan jadi penulis harus punya blog. Awalnya saya sadar saat saya chatting di Facebook dengan famili saya di Banyuangi yaitu Naila Warda. Waktu saya bilang bahwa saya suka menulis, dia tanya blog saya. Saya diam sebentar dan jawab, “Saya nggak punya blog.” Tambah saya, “Inginnya buat dari kemarin, tapi nggak sempat, apalagi internet dilarang di pondok.”

Alasan seperti itu logis, tapi saya kira bukan alasan yang cerdas; alasan menutupi aib. Di suatu perjalanan dari Madura menuju Tebuireng, saya menyinggung tentang blog pada teman saya, Fairosi. Dia, dalam ceritanya, mengaku punya blog. Sebuah kalimat membersit di dalam pikiran,  jadi dia bisa buat blog. Terus teman sekelas saya waktu MTs dulu—namanya Roychan Fajar—dengar-dengar punya blog dengan akun blognya, “Gubuk Roychan.” Benar atau tidaknya saya masih belum searching di internet. Itu hanya cerita teman saya tadi.

Selanjutnya, saya berjanji menge-post tulisan-tulisan saya di blog saya. Selamat membaca, kawan![]

Congka’, 5 Juli 2015

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...